Ibu dalam Ukuran Asli
Ibu ternyata lebih kecil daripada di layar.
Itu pikiran pertama Dita ketika pintu kedatangan Bandara Juanda bergeser dan seorang perempuan berjaket abu-abu mendorong troli dengan dua koper dan satu kardus bertali rafia. Enam tahun Dita melihat wajah Ibu memenuhi layar ponsel. Ia lupa bahwa Ibu punya bahu, punya langkah, punya tinggi badan yang hanya sampai telinganya.
"Dita?"
Ibu berhenti dua meter di depannya, seperti tidak yakin. Lalu troli itu ditinggalkan begitu saja, dan Ibu memeluknya. Bau Ibu asing: sabun hotel, udara pesawat, dan sesuatu yang manis seperti minyak angin cap luar negeri.
Mbah Putri tidak ikut memeluk. Ia berdiri di belakang, memegangi tas plastik berisi nasi bungkus, menangis tanpa suara sampai Paklik Darno yang menyetir mobil sewaan harus menuntunnya duduk di kursi tunggu.
"Mak," kata Ibu, berlutut di depan kursi itu. "Yuni pulang, Mak."
Mbah Putri hanya mengusap kepala anaknya, berulang-ulang, seperti sedang memastikan kepala itu sungguhan.
Tiga hari pertama, rumah di Blitar berubah jadi rumah orang lain.
Ibu bangun pukul setengah lima. Bukan untuk salat saja, tapi untuk mengepel. Ia mengepel dapur, teras, kamar mandi, lalu mengepel lagi dapur karena Mbah Putri lewat dengan sandal basah. Ia memindahkan toples gula ke rak atas, menyusun sandal di depan pintu menurut ukuran, dan melipat handuk menjadi bentuk segitiga yang rapi sekali.
"Yun," kata Mbah Putri pada hari ketiga, berdiri di depan rak dengan tangan di pinggang. "Gula Mak di mana?"
"Di atas, Mak. Biar tidak dirubung semut."
"Mak tidak sampai."
"Nanti Yuni ambilkan."
"Empat puluh tahun gula itu di bawah, semutnya tidak pernah protes."
Dita tertawa dari meja makan, lalu cepat-cepat diam ketika Ibu menoleh. Ibu tersenyum kecil, menurunkan toples gula, dan meletakkannya kembali di tempat lama. Tapi Dita melihat tangan Ibu meraba-raba pinggiran rak setelahnya, seperti tidak tahu harus melakukan apa kalau tidak sedang membereskan sesuatu.
Malamnya, Ibu masuk ke kamar Dita dengan sisir di tangan.
"Ibu kepang, ya? Dulu kamu suka dikepang dua."
"Dita sudah tujuh belas, Bu."
"Oh." Ibu memandangi sisir itu. "Iya. Iya, ya."
Ia keluar lagi. Dita memandangi pintu yang tertutup pelan, lalu memukul bantalnya sendiri. Enam tahun ia minta ibunya pulang. Sekarang ibunya pulang, dan ia malah tidak tahu cara bicara dengan perempuan yang tingginya cuma sampai telinganya itu.
Gerobak kedua jadi pada hari kelima.
Rani yang mengecatnya, hijau tosca dengan tulisan kuning yang agak miring: DIMSUM BU YUNI, RESEP SHA TIN. Ibu memandangi tulisan itu lama sekali.
"Resep Sha Tin itu apa?"
"Kan Ibu belajar masak dimsum di sana," kata Rani bangga. "Biar kedengaran mahal, Bu."
"Ibu belajarnya dari nonton nenek majikan bikin siomay. Bukan sekolah masak."
"Nah, itu malah lebih otentik."
Ibu tertawa, tawa pertama yang lepas sejak turun dari pesawat. Dita mencatat dalam hati: Rani. Rani bisa bikin Ibu tertawa.
Malam sebelum hari pertama berjualan, dapur penuh uap. Ibu melipat kulit pangsit dengan gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti mata, jemarinya menjepit, memutar, menekan, dan jadilah bunga kecil berisi ayam dan udang. Dita mencoba meniru. Hasilnya lebih mirip kantong kresek kena hujan.
"Jempolnya di sini," kata Ibu, memegang tangan Dita dari belakang. "Jangan ditekan. Dirayu."
"Dirayu?"
"Kulit pangsit itu seperti orang tua. Kalau ditekan, sobek. Kalau dirayu, mau dibentuk apa saja."
Dita diam. Tangan Ibu kasar di bagian telapak, halus di punggung. Ia ingin bertanya banyak hal: siapa yang mengajari Ibu, apakah Ibu pernah menangis di dapur orang, apakah Ibu juga merindukan tangan seseorang selama enam tahun itu. Tapi yang keluar hanya, "Oh. Begitu."
Hari pertama, gerobak dimsum terjual sebelas porsi dari lima puluh.
Gerobak es kopi susu di sebelahnya laku seperti biasa, anak-anak SMA berderet dengan seragam keluar dari celana. Tapi mereka memandangi gerobak hijau tosca itu dengan curiga. Seorang anak bertanya apakah dimsumnya halal. Ibu menjawab ya, tentu, ayam dan udang. Anak itu mengangguk, lalu tetap membeli cilok di seberang jalan.
Ibu menghitung uang di teras malam itu, dua kali. Tangannya gemetar sedikit ketika menumpuk lembaran lima ribuan.
"Seratus empat puluh tiga ribu," katanya. "Modalnya tiga ratus dua puluh."
"Hari pertama memang begitu, Bu," kata Dita, membuka buku tulis bergarisnya yang lecek. "Es kopi juga dulu cuma laku sembilan gelas. Ini, lihat. Tanggal empat belas Agustus tahun lalu. Sembilan."
Ibu membaca angka itu, lalu membalik halaman demi halaman. Pelan. Seperti sedang membaca surat.
"Kamu tulis semua ini sendiri?"
"Sama Rani."
"Ibu tidak tahu kamu serapi ini."
"Ibu tidak tanya," kata Dita, dan langsung menyesal. Kalimat itu keluar lebih tajam daripada maksudnya.
Ibu menutup buku itu. Hati-hati, seperti menutup pintu kamar orang tidur.
"Iya," katanya. "Ibu tidak tanya. Ibu cuma tanya sudah makan atau belum, enam tahun. Maaf ya, Nak."
Ponsel Ibu berbunyi pukul sebelas malam, ketika rumah sudah gelap.
Dita terbangun karena bunyinya asing, bukan nada dering yang ia kenal. Ia mendengar langkah Ibu terburu-buru ke dapur, lalu pintu belakang dibuka. Dita mengintip dari jendela kamarnya.
Ibu berdiri di bawah pohon belimbing, ponsel menempel di telinga. Cahaya layar menerangi wajahnya yang kebiruan. Ia bicara dalam bahasa yang tidak Dita mengerti, bahasa yang naik-turun seperti lagu, bahasa yang selama enam tahun hanya Dita dengar sebagai suara televisi di belakang punggung Ibu.
Lalu Ibu beralih ke bahasa Inggris, pelan dan patah-patah.
"Yes, Ma'am. I know. I know she not eating."
Diam lama.
"Please, Ma'am. Give me one week. One week, I answer."
Ibu menurunkan ponsel. Ia berdiri di bawah pohon belimbing itu lama sekali, tidak menangis, tidak bergerak, hanya memandangi layar yang sudah gelap.
Dita kembali ke kasur dan menarik selimut sampai ke dagu. Di layar ponselnya sendiri, ia mengetik pencarian dengan jari yang dingin: berapa lama proses visa kerja Hong Kong kalau pernah kerja di majikan yang sama.
Hasil pertama menjawab: bisa sangat cepat.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!