🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Pemandu di Taman Renungan

Surat yang Tidak Pernah Dikirim · 25 Okt 2026 · 5 menit baca

Bapak Lukas sudah sembilan belas tahun menjadi pemandu sukarela di sekitar Taman Renungan Bung Karno di Ende. Ia hafal semua cerita: tentang pohon sukun bercabang lima tempat Bung Karno dulu sering duduk merenung, tentang rumah pengasingan berdinding putih di Jalan Perwira, tentang naskah-naskah sandiwara yang ditulis di sana bersama warga Ende.

Ia bisa menceritakan semua itu dalam bahasa Indonesia yang rapi, sedikit bahasa Inggris untuk turis asing, dan bahasa Ende untuk anak-anak sekolah dari kampung. Yang tidak pernah bisa ia ceritakan hanya satu hal: surat yang ia tulis untuk istrinya, Maria, lima tahun lalu.


Maria meninggal di musim hujan, setelah sakit yang datang terlalu cepat untuk dipahami. Malam setelah pemakaman, Lukas duduk di bawah pohon sukun yang sama tempat ia biasa bercerita kepada pengunjung, lalu menulis di buku saku kecil:

Maria, sa belum sempat bilang...

Dan ia berhenti di sana. Lima tahun, kalimat itu tetap menggantung dengan tiga titik.


Suatu pagi di bulan Agustus, rombongan siswa SMP dari Maumere datang berkunjung. Guru mereka, seorang ibu muda bernama Bu Theresia, meminta Lukas bercerita singkat sebelum anak-anak menulis tugas.

"Tugasnya apa, Bu?"

"Menulis surat untuk seseorang yang mereka kagumi," jawab Bu Theresia. "Supaya mereka belajar bahwa kata-kata bisa jadi tindakan, seperti Bung Karno yang merenung di sini lalu menulis."

Lukas bercerita seperti biasa. Tentang lima cabang pohon sukun yang konon mengilhami lima sila. Tentang pengasingan yang ternyata bukan akhir, tapi jeda untuk berpikir. Anak-anak mendengarkan, sebagian sambil menggaruk gigitan nyamuk, sebagian sambil mencuri pandang ke penjual es kelapa di pinggir taman.

Lalu seorang anak perempuan berkacamata mengangkat tangan.

"Bapak, kalau Bapak harus tulis surat, Bapak tulis untuk siapa?"

Pertanyaan anak kecil selalu masuk lewat pintu yang tidak dikunci.

"Untuk mama tua sa," jawab Lukas setelah diam agak lama. "Istri sa. Dia sudah meninggal."

Anak-anak terdiam. Bu Theresia tampak ingin menyelamatkan suasana, tapi anak berkacamata itu, namanya Angela, malah bertanya lagi, "Sudah Bapak tulis?"

"Sudah mulai. Belum selesai."

"Kenapa?"

Lukas tertawa kecil. "Karena kalau selesai, rasanya seperti benar-benar pamit."


Anak-anak duduk tersebar di bawah pepohonan, menulis di atas papan alas. Lukas berjalan berkeliling seperti biasa, memastikan tidak ada yang memanjat pagar atau menginjak tanaman. Sesekali ia membaca judul surat mereka dari jauh: Untuk Bung Karno. Untuk Mama. Untuk Kakak yang kerja di Malaysia. Untuk Guru SD sa.

Angela tidak menulis. Ia duduk di bangku dekat pohon sukun, memegang pulpen tanpa bergerak.

"Kenapa belum tulis?" tanya Lukas.

"Sa mau tulis untuk Bapak sa," kata Angela pelan. "Tapi Bapak sa sudah meninggal tahun lalu. Sa takut kalau tulis, nanti menangis di depan teman-teman."

Lukas duduk di ujung bangku. Ia mengeluarkan buku saku kecil dari kantong kemeja dinasnya yang lusuh, membukanya di halaman dengan tiga titik, dan memperlihatkannya pada Angela.

"Lihat. Bapak juga takut."

Angela membaca kalimat yang menggantung itu. Maria, sa belum sempat bilang...

"Bapak belum sempat bilang apa?"

Lukas menatap pohon sukun lama sekali.

"Terima kasih," katanya akhirnya. "Terima kasih sudah tahan dengan sa yang tiap hari cerita hal yang sama ke orang asing, tapi lupa cerita ke dia sendiri."

Angela menunduk. Lalu ia mulai menulis. Pelan, satu baris, lalu baris berikutnya. Lukas tidak membacanya. Ia hanya duduk di ujung bangku, menjaga.

Bu Theresia menghampiri Lukas sebelum rombongan naik bus. "Terima kasih, Pak. Angela itu anak yang tertutup sejak bapaknya meninggal. Saya tidak pernah melihat dia menulis sebanyak tadi."

"Bukan sa yang bikin dia menulis," jawab Lukas. "Pohon sukun ini yang sabar menunggu. Sa cuma kebetulan duduk di bangkunya."

Angela melambai dari jendela bus. Di tangannya ada surat yang sudah dilipat rapi, dan Lukas tahu, entah bagaimana, surat itu akan dibacakan di depan makam bapaknya akhir pekan nanti.


Setelah rombongan pulang, Lukas kembali ke bangku itu sendirian. Matahari Ende sore hari jatuh miring dari arah laut Sawu, membuat bayangan pohon sukun memanjang di rumput.

Ia membuka buku sakunya dan melanjutkan kalimat yang lima tahun menggantung.

Maria, sa belum sempat bilang terima kasih. Terima kasih sudah bangun lebih pagi setiap hari untuk siapkan kopi. Terima kasih sudah dengar cerita Bung Karno yang sama seribu kali dan tetap tertawa di bagian yang sama. Terima kasih sudah bilang sa ini orang baik, waktu sa sendiri tra percaya.

Hari ini ada anak kecil yang bikin sa berani. Ko pasti suka dia. Kacamatanya miring seperti punya ko.

Sa sudah selesai tulis. Tapi sa belum pamit. Sa cuma pindah cara bicara.

Ia membaca ulang tulisannya dua kali. Tangannya tidak gemetar. Ia mengira akan menangis, tapi yang datang justru rasa ringan yang aneh, seperti orang yang baru menurunkan karung beras dari punggung setelah berjalan jauh. Angin laut sore berhembus pelan, menggoyang daun-daun sukun di atas kepalanya.

Ia menutup buku itu. Tidak ada yang berubah di taman: penjual es kelapa membereskan gerobaknya, burung-burung pulang ke pohon, dan seorang turis bertanya arah ke rumah pengasingan.

Lukas berdiri, merapikan kemejanya, dan tersenyum.

"Mari, sa antar," katanya. "Ceritanya agak panjang. Tapi sa suka bagian akhirnya."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Surat yang Tidak Pernah Dikirim”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu