Buku Kecil di Laci Kayu
Pada hari keenam, kaleng biskuit itu berisi seratus lima puluh ribu rupiah.
Fajar kini bisa menambal ban dalam waktu dua puluh menit, dari membongkar sampai memasang lagi. Ia sudah tahu cara mencari lubang tanpa ember, cukup dengan meniupkan angin dan mendekatkan ban ke pipinya untuk merasakan desisan udara. Ia sudah tahu bahwa lem harus ditunggu sampai tidak lengket lagi di ujung jari. Dan ia sudah tahu bahwa pelanggan Abah kebanyakan bukan anak-anak, melainkan bapak-bapak penjual sayur, tukang koran, dan ibu-ibu yang mengantar anak sekolah dengan sepeda.
"Si Encep punya asisten sekarang," kata Mang Dadang, penjual tahu goreng keliling, sambil menunggu bannya ditambal. "Gaji berapa, Jang?"
"Lima ribu per ban, Mang."
"Wah, lebih gede dari untung tahu Mamang."
Fajar tertawa, tapi diam-diam ia memperhatikan. Mang Dadang membayar tiga ribu rupiah untuk tambalan itu. Abah menerima uangnya, memasukkannya ke laci kayu, lalu mengambil lima ribu dari laci yang sama dan memberikannya pada Fajar.
Setelah Mang Dadang pergi, Fajar bertanya, "Bah, tambal ban berapa harganya?"
"Tiga ribu."
"Terus kenapa Abah bayar aku lima ribu?"
Abah tidak menjawab. Ia membuka laci kayu dan mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul plastik hijau, buku yang sama yang setiap malam ia tulis sebelum tidur. Ia menyerahkannya pada Fajar.
Di dalamnya, dengan tulisan tangan yang besar-besar dan agak miring, ada catatan setiap hari selama bertahun-tahun. Pemasukan: tambal ban, ganti rantai, setel rem. Pengeluaran: lem, karet tambalan, kopi, listrik, iuran RT. Dan di halaman-halaman terakhir, sejak Fajar datang, ada satu baris baru setiap hari: Fajar - tambal - 5.000. Di sebelahnya, tulisan kecil: rugi 2.000.
Fajar menghitung. Selama enam hari, Abah rugi enam puluh ribu rupiah untuknya.
"Abah kenapa..."
"Abah tidak rugi." Abah mengambil kembali bukunya. "Abah sedang bayar les."
"Les apa?"
"Les jadi kakek." Abah tersenyum, memperlihatkan gigi depannya yang tinggal satu. "Dulu, waktu bapakmu seumur kamu, Abah sibuk terus di bengkel. Tidak pernah ajari dia apa-apa. Sekarang dia jadi orang kantoran, sibuk terus, tidak pernah ajari kamu apa-apa." Ia mengangkat bahu. "Biar Abah yang bayar lesnya sekarang."
Sore itu, Fajar duduk di bangku plastik dan membuka buku hijau Abah lagi, kali ini dari halaman paling depan. Tanggal pertamanya dua puluh tahun lalu. Setiap hari ada catatan, bahkan hari Lebaran: tutup, tidak ada pemasukan, beli ketupat 30.000. Di beberapa halaman, ada tulisan tangan lain yang lebih halus, tulisan perempuan: Ambu - pasar - sayur 15.000. Rupanya Ambu juga ikut mencatat.
Fajar membalik halaman demi halaman sampai tulisan halus itu berhenti muncul, tiga tahun lalu. Setelah itu, hanya ada tulisan Abah yang besar dan miring, sendirian.
Hari kedelapan, Fajar membuat kesalahan pertama yang besar.
Seorang mahasiswa datang dengan sepeda gunung mahal, persis seperti yang Fajar impikan, hanya warnanya biru. Rantainya selip. Abah sedang ke pasar membeli karet tambalan, jadi Fajar memutuskan mengurusnya sendiri.
"Bisa, Dek?" tanya si mahasiswa ragu.
"Bisa, Kak."
Fajar pernah melihat Abah menyetel rantai, tapi belum pernah melakukannya sendiri. Ia membuka baut roda belakang, menarik roda untuk mengencangkan rantai, lalu mengencangkan baut lagi. Kelihatannya beres.
Si mahasiswa naik, mengayuh tiga kali, dan rantai itu putus dengan bunyi keras. Sepeda oleng, mahasiswa itu hampir jatuh ke selokan.
"Dek!"
Fajar membeku. Rantai sepeda itu tergeletak di aspal seperti ular mati. Ia menariknya terlalu kencang. Salah satu matanya patah.
Abah datang sepuluh menit kemudian, membawa kantong plastik. Ia melihat rantai di tanah, wajah pucat Fajar, dan mahasiswa yang berdiri sambil menyilangkan tangan. Tanpa berkata apa-apa, Abah berjongkok, memeriksa rantai itu, lalu mengambil rantai baru dari rak dan memasangnya. Lima belas menit. Lalu ia menyetel ulang gir dan rem, dan menyuruh si mahasiswa mencoba lagi.
"Berapa, Bah?" tanya mahasiswa itu setelah puas.
"Tidak usah. Salah bengkel, bukan salah Akang."
Setelah mahasiswa itu pergi, Fajar berdiri di sudut bengkel, menunggu dimarahi. Abah hanya menulis sesuatu di buku hijau, lalu menyodorkan buku itu ke cucunya.
Rantai sepeda gunung - 120.000 - salah setel.
"Bah, aku ganti," kata Fajar cepat. "Dari kaleng."
"Itu tabunganmu."
"Tapi aku yang salah."
Abah menatapnya lama. "Kesepakatan kita cuma soal ban yang bocor lagi. Rantai tidak ada di kesepakatan."
"Tapi tetap aku yang salah."
Abah terdiam. Lalu ia mengangguk sekali, pelan.
Fajar mengambil kaleng biskuit dari rak. Ia mengeluarkan seratus dua puluh ribu rupiah, menghitungnya dua kali, lalu menyerahkannya pada Abah. Di kaleng tinggal empat puluh ribu.
Malam itu, saat berbaring di tikar, Fajar menatap tulisan di tutup kaleng: SEPEDA BARU. TARGET: 2.300.000. Sisa hari libur tinggal satu minggu. Lomba sepeda hias tinggal sembilan hari. Bahkan kalau ia menambal tiga puluh ban sehari, ia tidak akan pernah sampai.
Ia mengambil ponsel, membuka foto sepeda gunung itu, menatapnya lama, lalu menghapusnya.
Lalu ia bangun, mengambil spidol, dan menatap tutup kaleng itu. Di pojok bengkel, kain batik cokelat yang menyelimuti sepeda ontel Ambu bergerak pelan tertiup angin dari celah pintu.
Fajar mencoret tulisan di tutup kaleng, dan di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil, ia menulis sesuatu yang baru.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!