🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Peron Empat
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Lonceng 21.40

Peron Empat · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Laksmi menatap foto nomor 117 sampai matanya perih. Ia memperbesarnya, memeriksa setiap piksel, mencari tanda bahwa ini kesalahan aplikasi: dua foto yang tertumpuk, pantulan dari lensa, atau gambar dari galeri yang entah bagaimana tercampur.

Tidak ada. Data foto itu bersih. Tanggal hari ini, pukul 20.40 lewat sedikit, dengan koordinat lokasi Stasiun Ambarsari. Pajanan empat detik.

Ia tidak tidur malam itu.

Dua hari kemudian, ia kembali ke Ambarsari. Kali ini ia membawa sebuah amplop berisi foto 117 yang sudah dicetak.

Pak Rahmat sedang menyapu daun asam di peron satu. Ketika Laksmi menyodorkan foto itu, ia berhenti menyapu. Ia menatap cetakan itu lama, lalu menghela napas panjang, seperti orang yang sudah menunggu kabar buruk bertahun-tahun dan akhirnya kabar itu datang.

"Duduk, Mbak," katanya.

Mereka duduk di bangku dekat loket. Pak Rahmat menyalakan rokok kretek, tapi tidak mengisapnya, hanya memegangnya sampai abunya jatuh sendiri.

"Dulu stasiun ini punya empat peron," katanya. "Peron empat dipakai untuk kereta jurusan selatan, lewat jembatan Kali Wungu. Tahun 1982, peron itu dibongkar. Jalurnya ditutup, relnya diangkat. Yang tersisa cuma pondasi yang Mbak foto itu."

"Kenapa dibongkar, Pak?"

Pak Rahmat tidak langsung menjawab. "Bapak saya kepala stasiun di sini waktu itu. Pak Soetarjo. Saya masih SMP. Bapak nggak pernah mau cerita kenapa peron itu ditutup. Dia cuma bilang, ada malam yang keretanya nggak datang, dan orang-orang menunggu sampai pagi."

"Orang-orang di foto ini?"

Pak Rahmat menatap foto itu sekali lagi, lalu mengalihkan pandangan ke lapangan rumput di sebelah peron tiga. "Setiap malam pukul 21.40, lonceng itu bunyi," katanya. "Lonceng tanda kereta selatan masuk. Padahal sudah empat puluh tahun nggak ada kereta selatan. Saya sudah jaga di sini dua puluh tahun. Saya nggak pernah lihat apa-apa. Tapi saya selalu dengar."

"Kenapa nggak pernah cerita ke siapa pun?"

"Mau cerita ke siapa, Mbak? Ke kantor pusat? Mereka sudah mau tutup stasiun ini. Kalau saya cerita lonceng berbunyi sendiri, saya disuruh pensiun lebih cepat."

Laksmi menunjukkan bagian foto yang paling membuatnya gelisah: anak perempuan berseragam merah putih yang menatap kamera. Pak Rahmat memperhatikannya lama, dan untuk pertama kalinya Laksmi melihat ketakutan yang jujur di wajahnya.

"Anak ini," katanya pelan, "saya pernah lihat. Bukan di foto. Di mimpi. Waktu saya kecil, setelah malam itu. Dia duduk di bangku peron empat, nanya ke saya, keretanya jam berapa, Mas? Saya nggak bisa jawab. Saya bangun nangis, Bapak saya yang menenangkan." Ia tersenyum pahit. "Bapak bilang itu cuma mimpi. Tapi besoknya Bapak minta izin ke kantor untuk membongkar peron empat. Dua bulan kemudian, peron itu hilang."

"Bapak Bapak ngerti sesuatu," kata Laksmi.

"Bapak saya ngerti banyak hal. Cuma nggak pernah mau cerita."

Mereka diam lama. Kereta sore lewat tanpa berhenti, hanya membunyikan klakson panjang, dan daun-daun asam berhamburan di belakangnya.

Malam itu, Laksmi tidak pulang sebelum pukul sembilan. Pak Rahmat tidak melarangnya lagi. Ia hanya menyalakan semua lampu peron dan duduk di bangku dekat loket dengan senter besar di pangkuan.

Laksmi memasang tripod di ujung peron tiga, di tempat yang sama persis dengan malam itu. Ia membuka aplikasi kamera, mengatur mode malam, dan menunggu.

Pukul 21.38, angin berhenti. Daun-daun asam berhenti berjatuhan. Bunyi jangkrik di rumput mendadak hilang, seperti seseorang memutar tombol volume dunia sampai nol.

Pukul 21.40, lonceng berbunyi.

Satu kali, bulat dan dalam. Laksmi melihat lonceng besi di dekat ruang kepala stasiun. Lonceng itu diam. Bunyinya datang dari tempat lain, dari arah lapangan rumput, dari peron yang tidak ada.

Lalu ia mendengar langkah kaki.

Banyak langkah kaki. Sepatu kulit di atas tegel, sandal yang diseret, roda koper kecil yang berderak. Suara orang bercakap pelan dalam bahasa Jawa, tawa kecil, tangis bayi yang segera didiamkan. Semua bunyi keramaian sebuah stasiun di malam hari, datang dari lapangan rumput yang kosong dan gelap.

Laksmi menekan tombol rana dengan tangan gemetar. Empat detik.

Di layar ponselnya, hasilnya muncul perlahan, piksel demi piksel. Peron keempat. Lampu-lampu kuning. Orang-orang yang menunggu.

Dan anak perempuan berseragam merah putih itu, kali ini tidak duduk di bangku. Ia berdiri di tepi peron, dekat sekali dengan kamera, tangannya terangkat seperti melambai.

Laksmi menurunkan ponsel dan menatap lapangan rumput dengan mata telanjang. Kosong. Gelap. Hanya rumput yang bergoyang pelan.

Ia berdiri mematung beberapa detik, menunggu apa pun yang mungkin terjadi. Tidak ada yang terjadi. Bunyi-bunyi keramaian itu perlahan mereda, seperti suara pasar yang ditinggalkan, lalu hilang sama sekali. Jangkrik kembali bersuara. Angin kembali bertiup, dan daun asam kembali berjatuhan di atas peron.

Di bangku dekat loket, Pak Rahmat menunduk dalam-dalam, memegang topinya di dada, seperti orang yang sedang berdoa.

Ketika ia membereskan tripod, sesuatu jatuh dari tas kameranya ke lantai peron. Pak Rahmat menyorotkan senter ke sana.

Sebuah karcis kereta. Bukan kertas cetak seperti tiket zaman sekarang, melainkan karcis karton kecil yang tebal, berwarna merah muda, dengan angka-angka tercetak timbul. Di bagian belakangnya, ada cap tanggal dari mesin lama.

14 FEB 1982.

Pak Rahmat memungut karcis itu. Tangannya bergetar hebat, sampai senter di tangan lainnya membuat cahaya bergoyang di dinding.

"Ini karcis tujuan Wonorejo," bisiknya. "Kereta selatan. Kereta malam itu."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Fotografi Ponsel

Kamera ponsel hari ini sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan foto yang memukau. Yang membedakan foto biasa dan foto yang membuat orang berhenti menggulir layar adalah cara kamu...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu