🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 2 dari 2

Kamera Pengawas dari Kardus Mi

Perang Galon Kos Mawar · 23 Okt 2026 · 5 menit baca

Fajar mengetuk pintu kamar empat pukul satu lewat tujuh menit dini hari. Tiga ketukan pelan, lalu dua ketukan keras, seperti polisi di sinetron yang ia tonton bersama ibunya waktu kecil.

Gemericik air di dalam berhenti seketika. Cahaya biru di bawah pintu ikut padam.

"Cup," kata Fajar. "Aku tahu kamu belum tidur."

Hening. Lalu suara Ucup, terlalu tenang untuk orang yang baru bangun. "Aku sudah tidur dari jam sepuluh."

"Orang tidur tidak mematikan lampu akuarium waktu diketuk."

Pintu terbuka sedikit. Wajah Ucup muncul di celahnya, rambutnya acak-acakan, matanya lebar. Di belakangnya, Fajar melihat sesuatu yang membuatnya lupa sejenak tentang galon: rak besi tiga tingkat penuh toples bekas selai, masing-masing berisi satu ikan cupang dengan ekor berwarna merah, biru, ungu, dan satu yang belang seperti bendera.

"Cup," kata Fajar pelan, "kamu punya berapa ikan?"

"Dua puluh tiga."

"Waktu pindah ke sini kamu bilang tiga."

"Mereka beranak," jawab Ucup dengan nada membela diri. "Aku tidak bisa menolak takdir."

Fajar melangkah masuk. Di lantai ada ember berisi air, selang kecil, dan sebuah botol plastik besar bekas minyak goreng yang setengah terisi. Ia menunjuk botol itu.

"Itu air galon?"

Ucup menunduk. "Sebagian."

"Sebagian berapa?"

"Kalau air keranku belum diendapkan, kadang aku pakai air galon. Cupang yang baru ganti air itu stres kalau airnya mengandung kaporit."

"Berapa liter, Cup?"

Ucup menghitung dengan jari, lalu menggunakan jari tangan kedua. "Kira-kira dua liter semalam. Kadang tiga."

Fajar mencatat di buku cokelatnya. Tiga liter dikalikan tiga malam: sembilan liter. Itu menjelaskan banyak hal, tetapi tidak semuanya. Masih ada delapan liter yang hilang.

"Cuma itu?"

"Sumpah, cuma itu. Aku bahkan bawa air minumku sendiri dari rumah tiap pulang kampung."

Fajar menatap ikan-ikan itu. Dua puluh tiga pasang mata kecil menatapnya balik dari dalam toples, seolah-olah mereka adalah saksi bisu kejahatan ini. Ikan yang belang seperti bendera mengembangkan siripnya dengan sombong.

"Besok kamu bayar setengah galon," kata Fajar.

"Sepuluh ribu?"

"Untuk kebahagiaan dua puluh tiga ikan, itu murah."


Keesokan harinya, Fajar memaparkan temuan awalnya kepada penghuni kos di dapur, menggunakan kertas karton yang ia tempel di pintu kulkas dengan magnet berbentuk durian. Di karton itu ada grafik tangan berjudul PENURUNAN AIR GALON PER JAM (SENIN–SELASA), lengkap dengan garis merah yang menukik tajam antara pukul sebelas malam dan pukul satu dini hari.

"Sembilan liter sudah terpecahkan," kata Fajar, menunjuk Ucup, yang menunduk sambil memeluk toples berisi ikan belang bendera. "Delapan liter masih misteri."

Raffael mengangkat tangan. "Jar, kamu sadar ini cuma air dua puluh ribu?"

"Ini bukan soal dua puluh ribu. Ini soal keadilan."

"Ini soal kamu yang kurang kerjaan."

"Aku sedang praktik akuntansi forensik."

Bimo, yang hadir karena kebetulan belum tidur dari semalam, menguap lebar. "Pasang CCTV saja, beres."

Fajar menatapnya dengan mata berbinar. "Bim, kamu jenius."

"Aku cuma bercanda."

Tentu saja Fajar tidak punya uang untuk membeli kamera pengawas sungguhan. Yang ia punya adalah ponsel lama dengan layar retak, sebuah dudukan ponsel dari plastik, dan kardus bekas mi instan isi empat puluh bungkus yang ia temukan di gudang Bu Har.

Siang itu, ia membangun kamera pengawas pertama Kos Putra Mawar. Ponsel lama dimasukkan ke dalam kardus, kameranya mengintip lewat lubang kecil yang ia buat dengan obeng. Kardus itu diletakkan di atas lemari dapur, menghadap dispenser, dan disamarkan dengan menaruh dua bungkus mi instan sungguhan di atasnya.

"Kenapa ditaruh mi di atasnya?" tanya Pak Tono, yang pulang makan siang.

"Biar tidak mencurigakan, Pak."

"Kardus mi di atas lemari dengan dua mi di atasnya dan lubang di tengahnya," kata Pak Tono pelan, "itu justru benda paling mencurigakan di rumah ini."

Fajar tidak mendengarkan. Ia menyalakan aplikasi perekam video, mengatur ponsel supaya tetap menyala dengan pengisi daya yang kabelnya ia julurkan ke stopkontak di balik lemari, lalu menepuk kardus itu seperti menepuk kepala anjing penjaga.

"Mulai malam ini," katanya, "tidak ada setetes air pun yang hilang tanpa saksi."


Malam itu Fajar tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Ia bermimpi menjadi auditor yang menemukan penggelapan dana besar dan diwawancarai televisi nasional.

Pukul enam pagi ia bangun, berlari ke dapur, menurunkan kardus mi dengan hati-hati, dan mengeluarkan ponsel. Rekamannya tujuh jam. Baterai tinggal tiga persen. Galon turun tujuh garis.

Ia duduk di lantai dapur dan memutar rekaman dengan kecepatan delapan kali.

Pukul 21.12: Pak Tono mengisi panci kecil untuk menanak nasi. Wajar.

Pukul 22.40: Ucup mengisi botol minyak goreng. Fajar mendengus. Ternyata masih berlanjut.

Pukul 23.55: Bimo lewat, membuka kulkas, menutupnya lagi tanpa mengambil apa-apa, lalu berdiri di depan kulkas yang tertutup selama satu menit. Tidak ada hubungannya dengan galon, tetapi Fajar mencatatnya juga, karena itu aneh.

Pukul 01.32: layar menjadi lebih gelap. Seseorang mematikan lampu dapur yang biasanya menyala sepanjang malam.

Fajar memperlambat rekaman. Dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu indikator merah dispenser, sesosok bayangan muncul dari arah tangga. Bayangan itu tinggi, berambut panjang sampai bahu, dan membawa sebuah benda besar berbentuk botol.

Bayangan itu mendekat ke dispenser. Ia menekan tuas, lama sekali. Bunyi air terdengar jelas di rekaman, dan Fajar menghitung: dua puluh detik, tiga puluh detik, empat puluh detik.

Lalu bayangan itu berbalik. Dalam cahaya merah dispenser, terlihat jelas benda di tangannya: sebuah botol kaca besar dengan tutup bambu.

Si Bening.

Fajar menatap layar dengan mulut terbuka. Raffael, yang setiap hari bersumpah mengisi botolnya di kampus. Raffael, yang menyebut penyelidikan ini kurang kerjaan.

Ia sedang berdiri, berniat menggedor kamar tiga, ketika rekaman berlanjut dan menunjukkan sesuatu yang membuatnya duduk lagi.

Pukul 02.10, bayangan kedua muncul. Lebih pendek. Membawa ember.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Keuangan Pribadi Gen Z

Tanggal 25 gajian, tanggal 10 sudah menghitung hari? Masalahnya hampir pasti bukan gaji yang terlalu kecil, melainkan uang yang keluar tanpa rencana. Buku ini menuntunmu menata keu...

Rp39.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu