🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Episode 1 dari 2

Perahu Pukul Lima

Perahu Pukul Lima · 26 Okt 2026 · 6 menit baca

Sinyal di pulau itu punya rumahnya sendiri: ujung dermaga, di dekat tiang lampu yang catnya sudah mengelupas dimakan garam.

Andi tahu persis titiknya. Tiga langkah dari tiang lampu, menghadap ke barat, ke arah Jakarta yang tidak terlihat. Di situ, ponselnya yang retak di sudut bisa menangkap dua garis sinyal, cukup untuk membuka soal latihan ujian masuk perguruan tinggi dan menonton video pembahasan dengan resolusi paling rendah.

Setiap sore sepulang sekolah, setelah membantu ibunya menjemur ikan asin di para-para bambu, Andi duduk di ujung dermaga dengan buku tulis, pensil, dan ponsel yang ia bungkus plastik bening supaya tidak kena cipratan ombak. Ia belajar sampai matahari tenggelam di balik garis laut, lalu pulang saat azan magrib terdengar dari musala pulau.

Anak-anak kecil pulau sudah terbiasa melihatnya. Mereka memancing di sebelahnya, kadang bertanya sedang apa.

"Belajar," jawab Andi.

"Buat apa? Sekolahmu kan sudah mau tamat."

"Buat kuliah."

Anak-anak itu biasanya terdiam, lalu kembali ke pancingan mereka. Di pulau itu, kuliah adalah kata yang jarang diucapkan. Kebanyakan anak laki-laki ikut melaut setelah lulus SMA, atau bekerja di kapal penyeberangan, atau menyeberang ke Jakarta untuk jadi buruh. Anak perempuan membantu usaha keluarga atau menikah muda. Andi tidak pernah merasa ada yang salah dengan itu. Ayahnya nelayan, dan ayahnya orang paling jujur yang ia kenal.

Tapi Andi suka angka. Ia suka menghitung berat ikan asin yang dijemur ibunya, berapa yang hilang airnya dalam sehari, berapa harga yang pantas per kilogram. Ia suka menghitung jarak perahu ke dermaga dari kecepatan dan waktu. Gurunya di SMA, Pak Rudi, guru matematika yang ditugaskan dari Jakarta, yang pertama kali bilang bahwa orang yang suka menghitung seperti itu bisa kuliah di jurusan statistika, atau teknik, atau ekonomi.

"Kuliahnya mahal, Pak?" tanya Andi waktu itu.

"Ada beasiswa," jawab Pak Rudi. "Untuk anak-anak yang pintar tapi orang tuanya tidak mampu. Tapi kamu harus lulus ujian masuk dulu."

Ujian itu dilaksanakan di Jakarta. Lokasi ujian Andi sebuah kampus di Depok. Dari pulau, ia harus naik perahu ke dermaga Muara Angke, lalu bus ke stasiun, lalu kereta. Jadwal ujiannya pukul sepuluh pagi, sesi pertama. Pak Rudi sudah menghitungkan: perahu pertama berangkat pukul lima pagi, sampai di Muara Angke sekitar pukul tujuh lewat. Masih cukup waktu, asal tidak ada yang salah.

Malam sebelum ujian, Andi tidak bisa tidur. Ia mendengar angin di atap seng rumahnya, makin lama makin kencang. Pukul tiga pagi, ayahnya sudah bangun dan berdiri di depan pintu, memandangi laut yang gelap.

"Angin barat," kata ayahnya pelan. "Ombaknya tinggi."

Andi bangkit dari tikar. "Perahu tetap berangkat, Pak?"

Ayahnya tidak menjawab. Ia mengambil senter dan berjalan ke dermaga. Andi menyusul, membawa tas berisi kartu peserta ujian yang sudah dicetak di warnet pulau, dua pensil, penghapus, dan bekal nasi dengan ikan asin goreng buatan ibunya yang sudah dibungkus sejak tengah malam.

Di dermaga, beberapa awak perahu penumpang sudah berkumpul, bicara dengan suara keras di antara deru angin. Nakhoda perahu pertama, Pak Mansur, menggeleng-geleng.

"Belum ada izin berlayar dari syahbandar," katanya. "Kalau ombak begini, kita tunggu sampai terang. Mungkin jam tujuh. Mungkin jam delapan."

Andi merasa perutnya jatuh ke laut. Kalau perahu berangkat jam delapan, ia sampai di Muara Angke sekitar jam sepuluh. Ujiannya dimulai jam sepuluh. Tidak mungkin.

Ia berdiri di ujung dermaga, di titik sinyal, dan menatap laut yang hitam bergulung. Tiga tahun ia belajar di sini. Ratusan sore. Ribuan soal. Dan semuanya akan selesai karena angin.

Ayahnya berdiri di sebelahnya, lama, tidak berkata apa-apa. Lalu, tiba-tiba, ayahnya berbalik dan berjalan cepat ke arah perahu kayunya sendiri, perahu nelayan kecil dengan mesin tempel yang ditambat di ujung lain dermaga.

"Pak!" seru Andi. "Mau ke mana?"

"Mengantarmu."

"Pak, ombaknya tinggi! Kata Pak Mansur..."

Ayahnya menoleh. Di bawah cahaya senter, wajahnya yang terbakar matahari tampak tenang. "Bapak sudah dua puluh tahun melaut di sini. Bapak tahu jalan mana yang ombaknya lebih rendah. Kita lewat sisi pulau-pulau, tidak lewat laut lepas. Lebih lama, tapi lebih aman."

Ibunya datang tergopoh dari rumah, membawa dua pelampung jingga yang biasanya digantung di dinding. Ia memakaikan satu ke tubuh Andi dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat.

"Hati-hati," katanya kepada ayahnya. Lalu kepada Andi: "Kerjakan soalnya pelan-pelan. Jangan buru-buru seperti kalau kau makan."

Perahu kecil itu berangkat pukul empat lewat lima belas. Ayahnya berdiri di buritan memegang kemudi mesin tempel, membaca ombak seperti Andi membaca soal: mencari pola, menghitung jarak, memilih jalan yang paling masuk akal. Mereka menyusuri sisi pulau-pulau kecil yang menghalangi angin, berbelok, menunggu, lalu maju lagi saat ombak mereda.

Andi duduk di tengah perahu, memeluk tas plastik berisi kartu ujiannya, basah oleh cipratan. Ia tidak bicara. Ia hanya memandangi punggung ayahnya, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar mengerti bahwa ayahnya juga seorang yang pandai menghitung, hanya saja dengan cara yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Mereka tiba di Muara Angke pukul enam lewat empat puluh. Langit sudah terang, dan pasar ikan sudah ramai. Ayahnya menambatkan perahu di sela kapal-kapal besar, lalu mengantar Andi sampai ke jalan raya, menghentikan sebuah ojek, dan memberikan selembar uang lima puluh ribu yang lusuh dari saku celananya.

"Ke stasiun," kata ayahnya kepada tukang ojek. Lalu kepada Andi: "Pulangnya naik perahu sore. Bapak tunggu di dermaga."

"Bapak tidak ikut?"

Ayahnya tersenyum, sesuatu yang jarang Andi lihat. "Bapak mau jual ikan dulu di sini. Sudah terlanjur di Jakarta."

Andi sampai di lokasi ujian pukul sembilan lewat sepuluh. Bajunya masih lembap, rambutnya kaku oleh garam. Ia duduk di kursi bernomor, di ruangan ber-AC yang dingin, di antara ratusan peserta dari seluruh Jakarta yang memakai sepatu bersih dan membawa botol minum bermerek.

Saat soal pertama muncul di layar komputer, Andi menarik napas panjang. Ia teringat ayahnya di buritan perahu, membaca ombak satu per satu. Tidak buru-buru. Mencari pola. Memilih jalan yang paling masuk akal.

Ia mulai mengerjakan.

Empat minggu kemudian, pengumuman keluar. Andi membukanya di ujung dermaga, di titik sinyal, tiga langkah dari tiang lampu yang catnya mengelupas. Butuh empat kali memuat ulang halaman sebelum hasilnya muncul.

Ayahnya duduk di sebelahnya, membetulkan jaring yang robek, pura-pura tidak peduli.

Andi menatap layar lama sekali. Lalu ia menunjukkan layar itu kepada ayahnya, yang tidak bisa membaca tulisan kecil tanpa kacamata.

"Apa katanya?" tanya ayahnya.

Andi tidak langsung menjawab. Matanya basah, entah karena angin, entah karena hal lain.

"Katanya, Pak," jawabnya, "minggu depan saya harus naik perahu pukul lima lagi. Untuk daftar ulang."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

CV ATS & Lolos Wawancara Kerja

Banyak lamaran gagal bukan karena pelamarnya tidak mampu, melainkan karena CV-nya tidak terbaca sistem rekrutmen, pencapaiannya ditulis sebagai daftar tugas, atau jawaban wawancara...

Rp25.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu