Peron Semarang Tawang
Matahari pagi masuk dari jendela sebelah kanan ketika kereta berhenti di Semarang Tawang. Stasiun itu tua dan anggun, dengan atap tinggi dan tiang-tiang besi yang dicat hijau. Mbak Tika berpamitan, menyalami Pak Harsono dengan takzim, lalu menepuk bahu Raka.
"Kirimi aku foto lampu kuning itu, ya. Bagus."
"Iya, Mbak."
Mereka bertukar nomor. Setelah Mbak Tika hilang di keramaian peron, Raka merasa gerbong itu tiba-tiba lebih sepi dari seharusnya.
Kereta akan berhenti agak lama di sini. Pak Harsono berdiri, merentangkan punggung, lalu berkata, "Ayo turun sebentar. Kaki Kakek perlu diajak ngobrol."
"Nanti ketinggalan."
"Kondektur tidak pernah ketinggalan kereta. Kereta yang ketinggalan kondektur."
Raka memutar mata, tetapi ikut turun.
Peron Tawang ramai oleh pedagang lumpia dan bandeng presto. Seorang ibu menawarkan wingko babat dalam kotak kertas. Pak Harsono membeli dua bungkus lumpia dan menyerahkan satu kepada Raka.
"Kakek dulu sarapan di sini tiap Kamis. Dulu penjualnya bapak-bapak dengan pikulan."
Raka menggigit lumpia. Rebung, telur, udang kecil. Enak, lebih enak dari yang ia bayangkan. Ia mengeluarkan ponsel untuk memotretnya, lalu berhenti.
Layarnya hitam.
Ia menekan tombol daya. Tidak ada apa-apa. Ia lupa mengisi semalaman karena terlalu sibuk memotret jendela, dan colokan di dekat kursinya ternyata mati.
"Kakek, HP-ku mati."
"Power bank-mu?"
Raka membuka tas. Power bank ada, tetapi kabelnya tertinggal di kursi kereta. Ia berlari kecil kembali ke gerbong, mencari di sela kursi, di bawah, di kantong jaring. Tidak ada. Mungkin terbawa Mbak Tika. Mungkin jatuh di Cirebon.
Ketika ia kembali ke peron, wajahnya pucat. "Mama minta dikabari tiap stasiun besar."
Pak Harsono mengeluarkan ponselnya sendiri, model lama dengan tombol fisik dan layar kecil. "Pakai ini. Nomor ibumu ada di sana, nomor tiga."
Raka menatap ponsel itu seperti menatap benda museum. Ia mengetik pesan dengan susah payah, menekan satu tombol beberapa kali untuk satu huruf: MA KAMI DI SEMARANG. HP RAKA MATI. AMAN. Lalu ia mengembalikannya.
"Sampai Surabaya kamu tidak bisa foto," kata Pak Harsono.
"Iya."
"Bagus."
"Kok bagus?"
Pak Harsono tidak menjawab. Ia hanya mengajak cucunya duduk di bangku besi di ujung peron, dekat tiang tua yang catnya sudah berlapis-lapis.
Mereka duduk tanpa bicara selama beberapa menit. Raka, yang tangannya terbiasa memegang sesuatu, menggaruk-garuk lutut. Lalu, pelan-pelan, ia mulai melihat.
Ada burung gereja yang bersarang di celah atap baja, terbang masuk keluar membawa ranting. Ada petugas kebersihan yang mengepel lantai dengan gerakan berirama, seperti menari. Ada seorang ibu yang menyuapi anaknya bubur dengan sabar, setiap suapan diselingi tiupan kecil. Ada dua kakek yang bertemu di peron, saling menepuk punggung keras-keras dan tertawa sampai terbatuk.
"Itu teman lama," kata Pak Harsono, mengikuti arah pandang cucunya. "Lihat cara mereka menepuk punggung. Orang yang baru kenal tidak menepuk sekeras itu."
Raka memperhatikan. Benar. Ada sesuatu di cara dua kakek itu saling memandang, seperti mengukur seberapa banyak yang berubah dan seberapa banyak yang tidak.
"Kakek punya teman kayak gitu?"
"Dulu banyak. Sekarang tinggal sedikit." Pak Harsono memandangi tangannya sendiri. "Kebanyakan sudah duluan."
"Pak Slamet teman Kakek?"
Pak Harsono berpikir lama. "Kami cuma bertemu satu malam. Tapi kadang satu malam lebih berarti dari sepuluh tahun."
Peluit berbunyi panjang. Petugas peron mengangkat tangan.
"Itu kita," kata Pak Harsono, dan berdiri dengan bantuan tongkat. Raka memegang lengan kakeknya tanpa diminta.
Sepanjang perjalanan dari Semarang ke arah timur, Raka tidak punya apa-apa untuk dilihat selain dunia di luar jendela. Awalnya ia bosan setengah mati. Lalu, sekitar satu jam kemudian, ia mulai menghitung. Berapa banyak orang yang melambai dari pinggir rel. Berapa banyak kerbau. Berapa banyak masjid dengan kubah hijau.
Di sebuah perlintasan kecil, palang turun dan sederet anak sekolah berseragam putih biru menunggu di atas sepeda. Salah satu dari mereka melambai dengan dua tangan, hampir terjatuh dari sadelnya. Raka, tanpa berpikir, melambai balik. Anak itu bersorak dan teman-temannya ikut melambai, lalu kereta sudah melewati mereka, dan perlintasan itu mengecil di belakang.
"Mereka nggak kenal aku," kata Raka, setengah heran.
"Melambai ke kereta itu bukan soal kenal," kata Pak Harsono. "Itu soal ingin ikut pergi, sedikit saja, tanpa harus beranjak dari sepeda."
Pak Harsono memperhatikan cucunya bergumam menghitung, dan diam-diam menahan senyum.
"Kek, tadi ada kerbau tidur di tengah sungai."
"Kerbau memang suka berendam. Supaya tidak kepanasan."
"Kenapa sapi nggak?"
"Coba tanya sapinya."
Raka tertawa. Ia menempelkan dahi ke kaca, mengamati sawah yang memanjang sampai kaki gunung. Di kejauhan, gunung itu berdiri biru dan tenang, puncaknya disembunyikan awan.
"Itu gunung apa?"
"Kakek juga lupa. Dulu Kakek hafal semua nama gunung dari jendela kereta. Sekarang ingatan Kakek seperti karcis lama, banyak lubang pembolongnya."
Raka memandangi gunung itu lama. Ia ingin memotretnya. Tangannya bahkan sempat bergerak ke saku, mencari ponsel yang mati. Lalu ia berhenti, dan untuk pertama kalinya ia mencoba sesuatu yang lain: ia melihat saja. Ia mengingat bentuk puncaknya, warna birunya, awan yang menempel seperti kapas basah.
Nanti, pikirnya, kalau sudah sampai rumah, ia akan mencari namanya. Dan ia akan ingat bahwa ia pernah melihatnya sendiri, dengan matanya sendiri, dari kursi kereta di samping kakeknya.
Di pangkuan Pak Harsono, lentera itu bergoyang pelan mengikuti irama rel, seperti ikut melihat.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!