Layar yang Retak
Seminggu itu, Nara menyimpan janji di kantong seperti batu kecil. Setiap kali Bayu bercanda di grup, setiap kali Tiara bertanya kenapa Bayu selalu pulang lebih dulu, batu itu terasa bertambah berat.
"Mungkin dia les," tebak Tiara pada Kamis siang.
"Mungkin," jawab Nara, lalu pura-pura sibuk memilih foto.
Gilang tidak bertanya apa-apa. Tapi Nara memergokinya memandangi Bayu yang tertidur di meja saat jam istirahat, dengan seragam yang baunya samar seperti cuka dan cabai.
Sabtu pagi mereka berlatih di parkiran sekolah yang sepi. Hujan semalam meninggalkan genangan di mana-mana, dan Gilang tiba-tiba menjadi guru.
"Pantulan paling jelas kalau ponselnya rendah sekali," katanya sambil berjongkok, ponsel nyaris menyentuh air. "Dan anginnya harus diam. Kalau ada riak sedikit, menaranya jadi bergelombang."
"Kamu sering motret ini?" tanya Tiara.
Gilang mengangguk. "Tiap habis hujan. Sudah dua tahun." Ia membuka galeri dan menggulir. Puluhan foto genangan, semua dari sudut yang hampir sama, dengan langit yang berbeda-beda: kelabu, putih, jingga, ungu. "Aku suka menunggu sampai ada daun jatuh di pinggirnya. Biar orang tahu itu air, bukan kaca."
Bayu bersiul. "Dua tahun motret genangan yang sama. Kamu sabar banget."
"Atau keras kepala," kata Gilang, lalu tersenyum kecil. Itu senyum pertama yang Nara lihat darinya.
Nara memperhatikan satu hal lagi: Gilang selalu memotret berkali-kali, cepat, satu tekanan panjang yang menghasilkan belasan gambar sekaligus. "Kenapa begitu?"
"Karena daunnya bergerak. Dari dua puluh foto, biasanya cuma satu yang pas." Ia mengangkat bahu. "Sisanya aku simpan. Sayang dihapus."
Nara tidak tahu bahwa kebiasaan kecil itu, menyimpan foto yang gagal, akan menyelamatkan mereka tiga hari kemudian.
Senin pagi, ruang Seni Budaya dipenuhi bau kertas foto dan lem. Panitia sekolah meminta setiap tim mencetak empat foto ukuran 8R dan menempelnya di papan styrofoam. Optika datang dengan bingkai hitam mengilap. Klub Lensa Retak datang dengan foto yang dicetak di tukang fotokopi depan sekolah, Rp7.000 per lembar, dan papan yang ujungnya masih basah karena Tiara terlalu bersemangat memakai lem.
Foto-foto Optika memang memukau. Burung kuntul terbang di atas sawah, setiap bulunya tajam. Air terjun dengan air yang tampak seperti kabut, hasil rana lambat dan tripod. Potret seorang petani dengan latar belakang kabur yang lembut seperti krim.
"Kita kalah," bisik Tiara.
"Belum," kata Nara, walaupun perutnya juga bilang hal yang sama.
Tiga juri berkeliling: Bu Ratna dengan termos tehnya, Pak Hendra guru Bahasa Indonesia, dan Bu Sinta guru TIK yang terkenal galak soal plagiarisme. Mereka berhenti lama di depan foto Optika, mengangguk-angguk, mencatat.
Lalu mereka sampai di papan Klub Lensa Retak.
Bu Sinta memandangi foto Bayu: cahaya sore menembus daun palem, petugas kebun yang kecil di bawahnya. Ia mendekat, mundur, mendekat lagi.
"Ini pakai ponsel?"
"Iya, Bu," jawab Bayu. Ia mengangkat ponselnya yang retak. "Yang ini."
Pak Hendra tertawa kecil, bukan mengejek. "Layarnya sudah seperti peta sungai."
"Kameranya masih sehat, Pak. Cuma layarnya yang lagi patah hati."
Kali ini ketiga juri tertawa. Bahkan Reza, yang berdiri di dekat jendela, tersenyum tipis sebelum buru-buru memasang wajah serius lagi.
Bu Ratna menunjuk foto Tiara. "Kenapa sepatunya cuma satu?"
Tiara menelan ludah. "Karena anak yang meninggalkannya terlalu senang, Bu. Dia lari pulang dan lupa."
"Kamu tahu dari mana?"
"Saya tidak tahu," kata Tiara jujur. "Tapi fotonya membuat saya ingin tahu. Saya pikir itu tugas foto yang bagus."
Bu Ratna menulis sesuatu di kertasnya dan menggaris bawahi dua kali.
Penilaian berlangsung satu jam. Mereka menunggu di koridor. Bayu memainkan tali ransel. Gilang memandangi lapangan. Tiara mengulang-ulang daftar kemungkinan, dengan suara pelan seperti orang membaca doa.
"Kalau kita kalah, kita masih bisa ikut lomba lain," katanya. "Kalau menang, kita harus latihan tiap hari. Kalau seri..."
"Mana ada seri," potong Bayu.
Gilang tetap diam, tapi jarinya mengetuk-ngetuk lutut dengan irama yang sama berulang-ulang. Nara menyadari bahwa itu bukan bosan. Itu cara Gilang menahan gugup. Ia duduk di sebelahnya dan ikut mengetuk lutut sendiri, pelan, sampai Gilang menoleh dan hampir tertawa.
Pintu ruang terbuka. Bu Ratna memanggil kedua tim masuk.
"Kami punya kabar yang tidak kami duga," katanya. "Kemarin saya menulis surel ke panitia provinsi untuk memastikan aturan. Ternyata ada salah cetak di pengumuman. Yang benar: setiap sekolah boleh mengirim satu tim untuk setiap kategori."
Hening sejenak.
"Jadi," kata Pak Hendra, "Optika mewakili sekolah di kategori kamera. Dan Klub..." ia melirik kertas, menahan senyum, "Klub Lensa Retak mewakili sekolah di kategori ponsel."
Bayu berteriak pelan, lalu buru-buru menutup mulut. Tiara memeluk papan styrofoam yang masih lengket. Gilang menghela napas panjang seolah ia menahannya selama seminggu. Nara merasa dadanya ringan sekali, sampai-sampai batu kecil di kantongnya terlupakan.
Reza maju dan mengulurkan tangan kepada Nara. "Selamat. Foto kakek-nenek dari belakang itu bagus. Kamu menghormati mereka."
Nara terkejut. "Terima kasih."
"Tapi," Reza menoleh ke papan, ke foto keempat milik Gilang, "boleh aku tanya satu hal?"
Foto Gilang adalah genangan air di parkiran yang memantulkan menara masjid. Di versi cetak, warnanya lebih dalam, langit di pantulan itu biru tua dengan semburat jingga.
"Aku pernah lihat foto yang mirip sekali," kata Reza pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua juri. "Di internet. Di akun fotografer dari Yogyakarta. Sudut yang sama, pantulan yang sama, daun kering di pinggir yang sama."
Ruangan langsung dingin. Bu Sinta, yang terkenal galak soal plagiarisme, menurunkan kacamatanya.
"Gilang," katanya, "ini foto kamu sendiri?"
Gilang membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Wajahnya memerah, lalu pucat. Ia memandangi Nara, Tiara, Bayu, seperti orang yang tenggelam mencari pegangan.
"Kalau tidak bisa dibuktikan," lanjut Bu Sinta, "tim ini tidak bisa mewakili sekolah. Kalian punya waktu sampai besok pagi."
Reza tidak tersenyum. Ia malah tampak sedikit menyesal, seolah tidak menyangka kalimatnya akan sejauh ini.
Di luar, hujan mulai turun di atas parkiran, membuat genangan baru yang memantulkan langit kelabu.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!