🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 5 dari 5

Seratus Dua Puluh Amplop

Kedai Kopi di Ujung Gang · 26 Okt 2026 · 5 menit baca

Malam itu Laras menghitung lagi, padahal ia tahu hasilnya tidak akan berubah.

Tabungannya tinggal empat juta tiga ratus ribu. Uang di laci kasir hasil hari ini: empat ratus dua puluh ribu, belum dipotong belanja susu dan gula untuk besok. Tunggakan sewa: enam juta. Sembilan hari.

Ia menulis angka-angka itu di balik selembar struk, mencoretnya, lalu menulis ulang dengan urutan berbeda, seolah urutan bisa mengubah jumlah. Di kantor lamanya di Jakarta, ia biasa menyusun anggaran bernilai ratusan juta untuk klien. Sekarang enam juta terasa lebih berat dari semuanya.

"Kamu bisa jual mesin gilingnya," kata Rendra dari balik bar. Ia sedang mencuci cangkir terakhir. "Mesin itu masih bagus. Dua juta, mungkin."

"Lalu besok pagi giling pakai apa?"

Rendra tidak menjawab. Ia mengeringkan tangannya dengan lap, lalu duduk di bangku tinggi di seberang Laras.

"Bu Hartini itu sebenarnya tidak jahat," katanya. "Dulu dia sering pesan kopi di sini juga. Suaminya meninggal waktu saya masih kerja. Darto antar kopi ke rumahnya tiap pagi, seminggu penuh, tanpa bayar."

"Kakek antar kopi ke semua orang, sepertinya."

"Ke semua orang yang sedang susah." Rendra tersenyum tipis. "Makanya dia tidak pernah kaya."

Laras memandangi ikatan amplop di sebelah tumpukan struk. Ia sudah memutuskan, tadi sore, setelah Bu Hartini pergi. Rendra hanya punya tiga hari di Bandung. Kalau ia menunggu Kamis depan, mungkin tidak akan ada Kamis depan untuknya.

Ia mendorong ikatan itu ke seberang meja.

"Ini punya Mas. Sebenarnya bukan untuk saya, juga bukan untuk Kakek."


Rendra membuka karet gelangnya dengan hati-hati, seolah amplop-amplop itu bisa hancur kalau disentuh terlalu keras. Amplop paling atas adalah yang paling baru, yang kemarin dititipkan Pak Hadi kepada Laras. Ia membukanya, melihat foto dirinya di balik gerobak, dan membaca tulisan di baliknya.

Laras melihat jakun Rendra naik turun.

Amplop kedua berisi selembar kertas bergaris dari buku tulis anak sekolah. Tulisan tangannya sama, huruf-huruf tegak yang ditekan kuat.

Darto, bulan ini hujan terus. Atap dapur bocor lagi. Rendra dulu yang selalu naik ke genteng. Sekarang saya pakai ember. Kalau dia telepon, jangan bilang soal atap. Nanti dia merasa bersalah.

Amplop ketiga:

Darto, saya lihat di televisi ada berita kedai kopi di Jakarta yang ramai sekali. Saya cari namanya di kertas iklan, bukan kedai Rendra. Tapi saya senang ada kedai kopi yang ramai. Mungkin kedainya juga begitu.

Rendra membaca dalam diam. Satu amplop, lalu yang berikutnya, lalu yang berikutnya lagi. Laras tidak berani bergerak. Ia hanya mendengar bunyi kertas dibuka, dilipat, dan diletakkan dalam tumpukan yang semakin tinggi di sisi kiri meja.

Ada surat tentang kucing tetangga yang melahirkan di garasi. Ada surat tentang harga cabai. Ada surat yang hanya berisi satu kalimat: Hari ini ulang tahunnya yang ke-29. Saya beli martabak manis, separuh rasa kacang, separuh cokelat. Separuhnya tidak dimakan.

Rendra meletakkan surat itu dan menekan pangkal hidungnya dengan dua jari.

"Dia tidak suka martabak," katanya dengan suara serak. "Selalu bilang terlalu manis. Saya yang suka."


Hampir tengah malam ketika Rendra sampai di amplop-amplop dari dua tahun lalu. Laras sudah menyeduh teko kopi kedua. Tidak ada yang berniat tidur.

Rendra membuka satu amplop, membaca, lalu berhenti. Ia membaca lagi dari awal. Lalu ia mendorong kertas itu ke arah Laras, seakan butuh orang lain untuk memastikan bahwa matanya tidak salah.

Tulisannya sama, tegak dan ditekan. Tapi kali ini lebih panjang, dan di beberapa tempat tintanya meleber, seperti ditulis dengan tangan yang gemetar.

Darto, aku sudah tahu soal utang Rendra. Pak Bambang yang cerita, sepupunya ternyata salah satu yang meminjamkan uang. Katanya Rendra ditagih terus, sampai pindah kos tiga kali. Kedainya sudah tutup.

Sawah warisan Ibu di Garut sudah saya jual. Uangnya saya titip lewat Pak Bambang, untuk melunasi separuh utang Rendra ke orang itu. Pak Bambang akan bilang ke Rendra bahwa penagihnya memberi keringanan, sisanya boleh dicicil tanpa bunga.

Jangan beri tahu Rendra, Darto. Kalau dia tahu itu dari saya, dia akan merasa saya menang. Saya tidak mau menang. Saya cuma mau dia bisa tidur.

Laras mengangkat wajahnya. Rendra sudah berdiri. Ia berjalan ke jendela, ke meja yang setiap Kamis ditempati bapaknya, dan berdiri di sana dengan punggung menghadap ke dalam.

"Dua tahun lalu," katanya, tidak kepada siapa pun. "Penagih yang paling keras tiba-tiba telepon. Katanya utang saya dipotong separuh. Dia bilang ada 'kebijakan baru'. Saya pikir Tuhan akhirnya kasihan sama saya."

Bahunya mulai bergetar.

"Saya sampai traktir teman-teman kos makan. Merayakan keberuntungan." Ia tertawa, tapi suaranya pecah di tengah. "Keberuntungan. Itu sawah nenek saya. Bapak dulu bilang sawah itu tidak akan pernah dijual, apa pun yang terjadi."

Laras berdiri, tidak tahu apa yang harus dilakukan, lalu memutuskan melakukan satu-satunya hal yang ia tahu. Ia menuang kopi dari teko ke cangkir, menambahkan banyak susu dan sesendok gula aren, lalu meletakkannya di meja jendela, di depan Rendra.

Rendra memandangi cangkir itu lama. Lalu ia duduk, di kursi bapaknya, dan meminum kopinya pelan-pelan sampai habis.


Pukul satu pagi, Laras terbangun oleh suara dari depan. Ia mengintip dari pintu kamar belakang.

Rendra masih di meja jendela. Ia sudah mengembalikan semua amplop ke dalam ikatan karet gelang, dan sekarang menulis sesuatu di balik selembar struk dengan pulpen kasir. Ia menulis, mencoret, menulis lagi. Persis seperti Laras tadi sore dengan angka-angkanya.

Lalu ponselnya bergetar di atas meja. Layarnya menyala, cukup terang untuk terlihat dari pintu kamar. Rendra membaca pesan itu, dan wajahnya berubah. Bukan sedih, bukan marah. Pucat.

Ia mengetik balasan dengan cepat, menghapusnya, mengetik lagi. Lalu ia mengambil ranselnya dari bangku tinggi dan memeluknya di pangkuan, seperti orang yang sedang menunggu kereta.

Laras kembali berbaring, tapi matanya tetap terbuka sampai subuh.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Kedai Kopi di Ujung Gang”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

★ 5,0 dari 1 pembaca
Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Novel dalam 30 Hari

Banyak orang punya ide cerita, tetapi sedikit yang berhasil menyelesaikan naskah. Bukan karena kurang bakat, melainkan karena tidak punya rencana dan kebiasaan menulis yang konsist...

Rp35.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu