📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Rindu yang Datang Lagi

Kawa Daun dan Kabut Pukul Lima · 28 Okt 2026 · 5 menit baca

Reno menyetrika kemejanya tiga kali. Nadia tahu karena Pak Datuak meneleponnya pukul enam pagi hanya untuk melaporkan hal itu.

"Kemeja putih," bisik Pak Datuak, seolah sedang membocorkan rahasia negara. "Bukan kotak-kotak. Saya tidak pernah lihat dia pakai kemeja putih sejak wisuda SMA."

Di bandara, Reno berdiri di pintu kedatangan dengan selembar karton bertuliskan nama Hélène Marchand. Huruf é-nya ditulis ulang dua kali, karena tanda di atasnya miring ke arah yang salah. Nadia membetulkannya dengan pena, dan tangan mereka bersentuhan, dan keduanya pura-pura tidak memperhatikan.

Hélène Marchand keluar dengan topi jerami lebar, kemeja linen kusut, dan satu koper kecil yang rodanya berbunyi. Ia lebih kecil daripada yang Nadia bayangkan. Rambutnya putih dan pendek, matanya abu-abu dan sangat hidup.

Ia menatap karton itu, lalu menatap Reno dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

"C'est lui?" tanyanya kepada Nadia. Inikah dia?

"Ini dia," jawab Nadia.

Hélène mengulurkan tangan, lalu berubah pikiran dan memeluk Reno, yang berdiri kaku seperti tiang listrik, dengan karton masih terjepit di antara mereka.


Hélène menolak duduk di kursi depan.

"Itu kursimu," katanya kepada Nadia dalam bahasa Inggris yang beraksen. "Saya sudah membaca suratmu. Saya tahu sejarah kursi itu."

Maka ia duduk di belakang, di sebelah Mak Etek, yang kebetulan pulang ke Bukittinggi hari itu dengan dua kantong sanjai lagi. Dalam sepuluh menit, kedua perempuan itu sudah berbagi kerupuk tanpa satu kata pun dalam bahasa yang sama. Mak Etek menunjuk sesuatu di luar jendela dan berkata panjang lebar dalam bahasa Minang. Hélène mengangguk-angguk dan menjawab dalam bahasa Prancis. Keduanya tampak sangat puas dengan percakapan itu.

"Mereka mengerti satu sama lain?" bisik Reno.

"Tidak sama sekali," jawab Nadia. "Tapi lihat, mereka bahagia."

Reno tertawa, dan untuk pertama kalinya sejak di bandara, bahunya turun.


Pukul setengah lima, mereka bertiga duduk di bangku panjang kedai Pak Datuak. Hélène memegang tempurung kawa dengan dua tangan, menghirup uapnya dengan mata tertutup.

Lalu kabut naik.

Hélène berdiri. Ia berjalan ke tepi kedai, ke pagar bambu yang menghadap ngarai, dan diam di sana lama sekali sementara lembah di bawahnya menghilang pelan-pelan di balik putih.

Ketika ia berbalik, matanya basah.

"Saya menulis kalimat itu di umur empat puluh satu," katanya. Nadia menerjemahkan untuk Reno, kalimat demi kalimat. "Di dapur, jam tiga pagi. Suami saya baru meninggalkan saya. Saya ingin pergi ke suatu tempat yang jauh, tempat yang belum pernah saya datangi. Tapi saya tidak pernah pergi. Saya pikir saya rindu tempat. Tiga puluh tahun saya pikir begitu."

Ia menatap Reno.

"Lalu seorang pengemudi menulis di pinggir halaman bahwa rindu kepada tempat sebenarnya rindu kepada orang yang membuat kita ingin datang. Dan saya sadar, saya tidak pernah pergi karena tidak ada siapa pun yang menunggu saya di mana pun."

Nadia menerjemahkannya. Suaranya goyah di kata terakhir.

Reno menunduk lama. Lalu ia berkata pelan, "Bilang ke Madame, sekarang ada yang menunggu. Datuak. Mak Etek. Saya. Kedai ini buka setiap hari kecuali Jumat siang."

Hélène mendengar terjemahannya dan tertawa sambil menangis. Ia menggenggam tangan Reno, lalu menoleh kepada Nadia dengan wajah cerah.

"Dan kamu, chérie, nanti di Lyon kamu harus mengunjungi saya. Enam bulan itu panjang. Saya yang menulis surat rekomendasi untukmu, kamu tahu? Kereta dari Lyon ke rumah saya hanya tiga jam."

Hening.

Reno menatap Nadia, menunggu terjemahan. Pak Datuak berhenti mengipasi tungku.

Nadia sudah menerjemahkan ribuan kalimat dalam hidupnya. Kalimat orang lain. Kalimat tentang perpisahan, pengkhianatan, kematian, dan cinta. Tidak pernah satu pun terasa seberat kalimat yang harus ia terjemahkan sekarang, tentang dirinya sendiri, kepada orang yang paling tidak ingin ia sakiti.

"Madame bilang," katanya pelan, "saya diterima program residensi penerjemah di Lyon. Enam bulan. Berangkat tanggal empat."

Reno tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, perlahan, seperti orang yang menerima kabar yang sudah lama ia duga.


Ia mengantar Hélène ke hotel dan tidak kembali.

Nadia duduk di kedai sampai kabut turun dan lampu-lampu kota menyala. Pak Datuak menyeduh kawa keempat untuknya tanpa diminta.

"Dia marah," kata Nadia.

"Dia tidak marah," kata Pak Datuak. "Dia sedang menulis."

Pukul delapan malam, mobil travel itu berhenti lagi di depan kedai. Reno turun, masih dengan kemeja putih yang kini kusut, membawa buku tulis bersampul plastik.

"Kakak lupa ini."

"Itu punyamu."

"Itu untuk Kakak. Sejak awal." Ia membuka halaman terakhir. "Nomor empat puluh tiga. Yang saya tulis cocok untuk orang yang pergi jauh. Kakak tidak tanya kenapa saya tulis itu."

"Kenapa?"

"Karena saya tahu Kakak akan pergi." Reno tersenyum kecil. "Orang yang menulis terjemahan dengan pena, yang mencoret sepuluh kali demi satu kalimat, tidak akan tinggal di satu tempat. Saya sopir travel, Kak. Pekerjaan saya mengantar orang pergi, lalu menunggu mereka pulang. Saya pandai menunggu."

Nadia membaca pantun nomor empat puluh tiga di bawah lampu kedai. Artinya ditulis Reno dengan pensil di bawahnya: Pergilah sejauh burung terbang, asal ingat jalan ke sarang.

"Bawa ke Lyon," kata Reno. "Terjemahkan ke bahasa Prancis. Empat puluh tiga pantun. Supaya Madame tahu, di sini memang ada yang menunggu."


Enam bulan kemudian, pukul satu siang, seorang pemuda berdiri di pintu kedatangan bandara Padang dengan kemeja kotak-kotak dan selembar karton. Kali ini tidak ada nama di karton itu. Hanya satu kalimat dalam bahasa Prancis, yang ia salin huruf demi huruf dari aplikasi di ponselnya, dengan tanda di atas huruf yang akhirnya miring ke arah yang benar.

Artinya: rindu yang membuat kita ingin datang lagi.

Nadia keluar dengan koper, ransel, dan sebuah buku tipis yang masih berbau tinta. Di sampulnya, judul dalam dua bahasa. Di halaman pertamanya, dua nama penerjemah: namanya sendiri, dan nama seorang pengemudi di jalur Padang–Bukittinggi.

"Kursi paling depan?" tanya Reno.

"Selamanya," jawab Nadia.

Pukul lima tepat, mereka tiba di kedai. Kabut naik dari dasar ngarai, putih dan pelan, dan Pak Datuak sudah menyeduh tiga tempurung kawa. Yang ketiga ia letakkan di ujung bangku, di depan tempat yang kosong.

"Untuk Madame," katanya. "Dia bilang, bulan depan dia datang. Ada yang menunggu."

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Kawa Daun dan Kabut Pukul Lima”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Menulis Cerita & Cuan di Platform Digital

Cerita bersambung yang kamu tulis di ponsel bisa menemukan ribuan pembaca, bahkan menjadi penghasilan. Namun, di tengah ribuan cerita baru setiap hari, yang bertahan adalah cerita...

Rp25.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu