Pinjam Lima Puluh
Yang masuk adalah Fajar.
Ia tidak menyalakan lampu. Seragamnya basah di bahu, dan ia membawa kantong plastik hitam besar yang ia letakkan hati-hati di lantai, di samping pintu. Dari kantong itu tercium aroma ikan dan bawang goreng. Ia berjalan ke lemari kelas, membukanya, lalu memutar gembok angka tanpa ragu sedikit pun. Klik.
Dari saku celananya ia mengeluarkan gulungan uang yang diikat karet gelang. Ia menghitungnya sekali lagi dengan bibir bergerak tanpa suara, lalu memasukkannya ke kaleng.
"Fajar," kata Salsa dari bangku belakang.
Fajar melompat seperti tersengat. Tutup kaleng berdenting jatuh ke lantai dan menggelinding ke kolong meja. Mereka berdua diam, saling menatap dalam cahaya kelabu pagi. Hujan masih menetes dari talang di luar jendela.
"Aku tidak mencuri," kata Fajar akhirnya. Suaranya serak dan sangat pelan. "Aku pinjam. Aku selalu kembalikan. Aku tulis catatannya."
"P. 50," kata Salsa.
Fajar mengangguk. "Pinjam lima puluh. Aku pikir kau akan baca. Tapi kau tidak pernah tanya, jadi aku pikir… mungkin kau tidak keberatan." Ia menunduk. "Itu bohong. Aku tahu kau tidak tahu. Aku cuma tidak berani bilang."
Salsa turun dari bangku belakang dan memungut tutup kaleng dari kolong meja. Ia duduk di bangku sebelah Fajar, bangku yang biasanya kosong.
"Cerita," katanya.
Fajar bercerita dengan kalimat-kalimat pendek, seperti orang yang tidak terbiasa bicara panjang tentang dirinya. Ayahnya sakit sejak Agustus, tidak bisa lagi menarik ojek. Ibunya menjual pempek di lorong dekat Pasar Cinde, ramai terutama Sabtu dan Minggu. Tetapi untuk berjualan akhir pekan, ibunya harus membeli ikan giling, sagu, dan gas elpiji pada hari Jumat, dan kadang uang di rumah tidak cukup sampai Senin.
"Jumat pagi aku ambil lima puluh ribu, buat beli gas dan ikan," katanya. "Minggu malam, uang jualan sudah terkumpul. Senin pagi aku kembalikan. Tidak pernah kurang. Biasanya pakai uang kecil, karena itu yang ada di laci jualan."
"Bau cuko," kata Salsa.
Untuk pertama kalinya Fajar tersenyum kecil, malu. "Iya. Semua uang di rumah kami bau cuko."
"Kau tahu kode gemboknya dari angka yang mengilap?"
Fajar mengangguk lagi. "Aku duduk paling depan. Aku lihat kau putar angkanya tiap Kamis. Angka nol, delapan, satu. Kode kelas kita tanggal delapan November, kan? Aku ingat waktu pemilihan pengurus."
Salsa menghela napas. Semua potongan tiba-tiba masuk ke tempatnya, dan entah kenapa ia tidak merasa menang sama sekali.
"Fajar," katanya pelan, "Arief dituduh satu kelas gara-gara ini."
Wajah Fajar langsung pucat. "Aku tahu. Aku sudah mau bilang dari Jumat. Tapi kalau aku bilang, semua orang akan tahu bapakku sakit, ibuku…" Kalimatnya terhenti.
"Kau malu?"
"Bukan malu karena ibuku jualan pempek," kata Fajar cepat, dengan nada yang tiba-tiba tegas. "Pempek ibuku paling enak di lorong itu. Aku malu karena aku ambil uang yang bukan punyaku, walaupun aku kembalikan."
Salsa memandangi kaleng bergambar mawar di pangkuannya. Di dalamnya ada tiga puluh dua orang yang membayar lima ribu rupiah setiap minggu, dan satu orang yang setiap minggu meminjam lima puluh ribu supaya keluarganya bisa terus berjualan.
"Kita bilang ke Bu Rosmala," katanya. "Bersama-sama. Sekarang."
Bu Rosmala mendengarkan cerita mereka di ruang guru, sambil memegang gelas teh yang tidak diminumnya. Ketika Fajar selesai, ia diam lama, lalu meletakkan gelas.
"Fajar, kau salah," katanya. "Mengambil uang bersama tanpa izin itu salah, walaupun dikembalikan. Kau mengerti?"
Fajar mengangguk, matanya merah.
"Tapi kau juga jujur. Kau mencatat. Kau mengembalikan setiap rupiah." Bu Rosmala menoleh ke Salsa. "Dan bendahara kita menemukan semua ini tanpa menuduh siapa pun di depan kelas. Itu juga penting."
Siang itu, pada jam wali kelas, Bu Rosmala meminta Fajar sendiri yang menjelaskan kepada teman-temannya. Fajar berdiri di depan kelas dengan tangan gemetar dan menceritakan semuanya, termasuk permintaan maaf kepada Arief. Kelas yang biasanya riuh menjadi sunyi.
Arief berdiri pertama kali. Ia berjalan ke depan, menepuk bahu Fajar, lalu berkata kepada seluruh kelas dengan suara ketua yang kali ini tidak dibuat-buat:
"Kalau ada yang butuh pinjam uang kas lagi, bilang ke Salsa dan aku. Kita tulis di buku, ditandatangani, dan ada tanggal kembalinya. Bukan pakai kertas sebesar prangko."
Beberapa anak tertawa. Lalu satu per satu mereka mengangkat tangan setuju.
Kelas XI IPS 2 sejak hari itu punya aturan baru yang ditulis Intan dengan spidol di karton dan ditempel di samping papan tulis: Dana talangan kas kelas. Maksimal 100 ribu. Wajib izin bendahara dan ketua kelas. Dicatat. Kembali paling lambat dua minggu. Salsa mengganti kode gembok dan, atas saran Fajar sendiri, menutup angka-angkanya dengan tangan setiap kali membuka kaleng.
Dua minggu kemudian, ibu Fajar mengirim dua kantong besar pempek ke kelas, satu berisi kapal selam, satu lenjer, lengkap dengan cuko dalam plastik yang dijepit penjepit hijau. "Untuk teman-teman Fajar," tulisnya di kertas kecil yang ditempel. "Terima kasih sudah memaafkan anak saya."
Salsa mengambil satu kapal selam dan menyimpan penjepit hijaunya di kaleng kas, di bawah karton pelapis. Bukan sebagai barang bukti lagi, pikirnya, tetapi sebagai pengingat bahwa di balik setiap angka di buku kas, selalu ada orang dengan ceritanya sendiri.
Lalu ia membuka buku kas dan menulis dengan pena, bukan pensil:
Senin. Kas lengkap. Masalah selesai.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!