Denda Empat Puluh Tiga Tahun
Buku kedua adalah Layar Terkembang. Sampulnya kuning pucat, sudut kanannya terlipat seperti pernah tertindih sesuatu yang berat dalam waktu lama. Kartu pinjamnya serupa dengan yang pertama: kertas bergaris, stempel ungu 11 MAR 1983, dan tulisan pena biru di kolom tanda tangan petugas.
Untuk N., halaman 112.
Dewi tidak menunggu Teguh. Ia langsung membuka halaman itu dan mengambil kaca pembesar dari laci. Kali ini garis pensilnya lebih banyak, tersebar di tiga paragraf. Ia menyalin hurufnya satu per satu, mengulang dua kali untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
A-K-U-T-I-D-A-K-D-A-T-A-N-G.
"Aku tidak datang," katanya. Suaranya hampir tenggelam oleh dengung kipas angin.
Ketika Teguh tiba dengan termos kopinya, Dewi sudah menempelkan dua kartu pinjam itu berdampingan di atas kertas putih. Teguh membaca catatan di sebelahnya, lalu duduk perlahan.
"Maaf. Aku tidak datang," ulangnya. "Kalau dibaca berurutan, ini permintaan maaf karena tidak datang ke suatu tempat."
"Tapi urutannya terbalik," kata Dewi. "Buku pertama dicap kembali tanggal 14 Maret. Buku kedua tanggal 11 Maret. Kalau ini pesan dari tahun 1983, buku kedua seharusnya dibaca lebih dulu."
Teguh mengetuk-ngetuk termos. "Jadi yang mengembalikan tidak mengikuti urutan waktu. Dia mengikuti urutan sesuatu yang lain."
"Urutan apa?"
"Mungkin urutan yang ingin dia katakan sekarang. Maaf dulu, baru penjelasannya."
Dewi menatap Teguh lebih lama dari biasanya. Untuk ukuran mahasiswa yang setiap hari salah menaruh payung, kadang-kadang ia bisa sangat tepat.
Mereka kembali ke register koleksi. Layar Terkembang dengan nomor itu juga tercatat hilang, dengan catatan pena merah yang sama: Hilang. Diganti rugi? Belum. Di kolom peminjam terakhir, kedua buku menyebut nomor anggota yang sama: A-0471.
"Ketemu," kata Teguh, lalu menarik buku induk anggota yang bersampul kain merah. Mereka membalik halaman demi halaman, A-0398, A-0412, A-0455, A-0468. Halaman berikutnya langsung melompat ke A-0480.
Halaman yang berisi A-0469 sampai A-0479 tidak ada.
Dewi menunduk ke lipatan jilidan. Sisa kertasnya masih menempel, rapi dan lurus, tidak sobek asal-asalan.
"Dipotong," katanya. "Pakai gunting atau silet."
"Kapan?"
Dewi mengamati warna kertas di sekitar potongan itu. Pinggirannya sama kuningnya dengan halaman-halaman lain, tidak ada bagian putih yang lebih baru. "Sudah lama sekali. Mungkin tidak lama setelah buku-buku itu hilang."
Teguh bersandar dan mengembuskan napas panjang. "Jadi seseorang memotong halaman identitasnya sendiri dari buku anggota, menyimpan buku pinjaman selama empat puluh tiga tahun, lalu sekarang mengembalikannya satu per satu, setiap Jumat, dengan pesan maaf."
"Kenapa dipotong?"
"Supaya tidak ditagih?" Teguh mengambil kalkulator dari meja, lalu tertawa kecil. "Aturan dendanya tahun delapan puluhan berapa, Mbak?"
Dewi mencari di map peraturan lama. "Dua puluh lima rupiah per hari per buku."
Teguh menekan tombol-tombol. "Dari Maret 1983 sampai sekarang sekitar lima belas ribu delapan ratus hari. Kali dua puluh lima rupiah, kali dua buku." Ia membalik layar kalkulator ke arah Dewi. "Tujuh ratus sembilan puluh ribu rupiah. Belum dihitung inflasi."
"Kamu mau menagihnya?"
"Saya mau mentraktir orang ini kopi," kata Teguh. "Orang yang menyimpan buku pinjaman selama itu pasti punya alasan yang lebih penting daripada denda."
Siang itu Dewi melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama enam tahun bekerja: ia mengambil foto kedua kartu pinjam dan membandingkan tulisan tangannya di layar laptop, diperbesar sampai tiap lengkungan huruf terlihat. Huruf N pada kedua kartu sama, dengan garis miring yang tidak menyentuh garis tegak di kanannya. Huruf h di "halaman" melingkar kecil di bagian atas. Tulisan seorang perempuan muda, pikirnya, yang belajar menulis halus di sekolah dan masih memakainya dengan rapi.
Ada satu hal lagi yang ia sadari ketika memotret ulang buku kedua. Di antara halaman 112 dan 113 ada bekas noda kecokelatan berbentuk bunga kecil, empat kelopak memanjang. Seperti pernah ada bunga yang diselipkan dan kemudian diambil.
"Melati," kata Pak Sabar sore itu ketika Dewi menunjukkan fotonya di pos jaga. Ia menjawab terlalu cepat. Dewi bahkan belum bertanya.
"Bapak tahu dari mana?"
Pak Sabar terbatuk. "Ya bentuknya begitu, Mbak. Orang Semarang mana yang tidak kenal melati. Ibu saya dulu menyelipkan melati di lemari baju."
"Pak," kata Dewi hati-hati, "kalau Bapak tahu siapa yang mengembalikan buku-buku ini, kami tidak akan menagih apa-apa. Kami cuma ingin mengerti."
Pak Sabar menatap jalan di depan perpustakaan, tempat becak dan ojek bergantian menunggu penumpang. Lama ia tidak menjawab.
"Saya cuma satpam, Mbak," katanya akhirnya. "Tugas saya menjaga gedung. Bukan menjaga rahasia orang."
Kalimat itu, pikir Dewi, persis kalimat orang yang sedang menjaga rahasia orang.
Dewi pulang naik angkot oranye yang lewat depan Lawang Sewu. Di kursi belakang, seorang ibu memangku keranjang berisi bandeng presto dan dua anak sekolah berdebat tentang tugas kelompok. Biasanya Dewi menikmati keramaian kecil itu. Kali ini pikirannya terus kembali ke halaman yang dipotong dari buku induk. Siapa pun pemilik nomor A-0471, ia tidak hanya ingin buku-bukunya hilang. Ia ingin namanya ikut hilang.
Tetapi orang yang ingin benar-benar menghilang, pikir Dewi, tidak akan mengembalikan bukunya sambil meninggalkan pesan maaf. Ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang membuat orang itu sekarang ingin ditemukan, atau setidaknya ingin dimengerti.
Malamnya Dewi menelepon Teguh. "Kotak pengembalian itu hanya terisi Jumat dini hari. Dua minggu berturut-turut. Kalau polanya sama, buku ketiga datang Kamis malam ini."
"Mbak mau menunggu di sana?"
"Kita," kata Dewi. "Ada warung kopi di seberang yang buka sampai subuh."
Di ujung telepon, ia bisa mendengar Teguh tersenyum. "Saya bawa termos."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!