Buku Resep Bertinta Ungu
Pukul sembilan malam, Grace mendengar bunyi kursi plastik diseret di dapur. Ia menunggu lima menit, lalu bangun dan berjalan keluar kamar dengan piama bergambar kucing.
Bapak menoleh, terkejut. Buku resep ungu itu ada di pangkuannya, terbuka di halaman yang sama dengan malam sebelumnya.
"Belum tidur? Besok sekolah."
"Haus," kata Grace. Lalu, sebelum keberaniannya hilang: "Bapak baca resep apa?"
Bapak memandangi buku itu, lalu Grace, lalu menutup bukunya setengah, seperti anak yang ketahuan menyembunyikan rapor. "Ayam goreng kunyit. Punya Mamamu. Bapak sudah coba tiga kali. Gosong terus, atau mentah di dalam."
"Mama selalu ungkep dulu," kata Grace.
Bapak menatapnya. "Ungkep?"
"Direbus sama bumbu sampai airnya habis. Baru digoreng. Biar matang sampai dalam. Grace sering lihat."
Bapak membuka buku itu lagi dan membaca dengan cepat, telunjuknya menyusuri tulisan ungu. Lalu ia berhenti, dan tertawa kecil, tawa yang terdengar kaget sekaligus malu.
"Ada di sini. Ungkep 30 menit api kecil. Bapak lewatkan. Bapak kira 'ungkep' itu nama bumbu."
Grace tertawa juga. Ia tidak bisa menahannya. Bapak tertawa lebih keras, sampai kursi plastiknya berderit, dan untuk pertama kalinya sejak Mama meninggal, dapur kecil mereka terasa ramai.
Malam itu mereka duduk berdua di lantai dapur, buku resep terbentang di antara mereka, dan Grace membacakan resep-resep Mama satu per satu. Tulisan Mama rapi dan bulat, dengan catatan-catatan kecil di pinggir halaman.
Arsik ikan mas. Andaliman jangan banyak-banyak, Grace belum kuat pedas.
Mi gomak. Kuah santan kental, kunyit, andaliman sedikit. Martin suka yang banyak telurnya.
"Martin itu Bapak," kata Grace, menunjuk.
"Iya," kata Bapak pelan. "Mamamu tahu Bapak suka telur."
Sop tulang. Masak sore, hangatkan pagi, lebih enak. Untuk bekal Grace kalau dia sedang flu.
Bihun goreng. Grace suka yang ada wortelnya diparut, bukan dipotong.
Hampir di setiap resep, ada nama Grace atau nama Bapak. Mama tidak hanya mencatat cara memasak. Mama mencatat siapa yang suka apa.
Bapak terdiam lama di halaman bihun goreng. "Bapak tidak tahu kau suka wortel diparut."
"Kalau dipotong, Grace pisahkan. Mama tahu, jadi Mama parut."
Bapak mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari tulisan ungu itu. "Bapak banyak tidak tahu, ya."
Grace tidak tahu harus bilang apa. Jadi ia bergeser sedikit, duduk lebih dekat ke Bapak, sampai bahu mereka bersentuhan.
Mereka membuat kesepakatan malam itu, ditulis Grace di halaman kosong paling belakang buku resep, dengan pulpen ungu Mama yang ternyata masih ada di laci.
Kesepakatan Dapur Bapak dan Grace:
1. Grace bantu baca resep tiap malam.
2. Bapak masak, Grace bantu yang tidak pakai pisau dan api.
3. Kalau gagal, jangan sedih. Mama juga pernah gagal (lihat halaman 12, kue bolu bantat).
4. Grace harus bilang kalau bekalnya tidak enak. Jangan dibuang.
Bapak membaca poin keempat dan mengangkat alis.
Grace menunduk. "Grace pernah buang nasi goreng. Empat kali. Maaf, Pak."
Bapak tidak marah. Ia hanya mengangguk, lama, lalu menepuk kepala Grace pelan. "Nasi gorengnya memang tidak enak. Bapak tahu. Bapak cuma bisa itu."
"Telurnya kemarin enak."
"Telurnya kemarin," ulang Bapak, tersenyum lebar, "adalah prestasi terbesar Bapak tahun ini."
Sebelum tidur, Bapak menyelipkan pulpen ungu itu di saku kemejanya, di samping kapur jahit dan meteran kain yang selalu ia bawa. "Biar Bapak ingat," katanya. Grace tidak bertanya ingat apa. Ia sudah tahu.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, mesin jahit Mama tidak berbunyi sampai larut. Bapak tidur lebih cepat, dan dari kamarnya, Grace mendengar dengkuran Bapak yang keras dan tidak beraturan, bunyi yang ternyata ia rindukan.
Rabu pagi, mereka bangun lebih awal. Bapak mengungkep ayam dengan kunyit, bawang putih, ketumbar, dan daun salam sejak subuh, sementara Grace mengawasi jam dan membacakan instruksi. Api kecil. Tiga puluh menit. Jangan diaduk terlalu sering.
Pukul enam lewat sepuluh, ayam itu masuk ke wajan berisi minyak. Bunyinya mendesis keras, dan wangi kunyit memenuhi dapur, persis seperti dulu. Grace memejamkan mata. Untuk sesaat, ia hampir mengira Mama yang berdiri di depan kompor.
Ketika ia membuka mata, Bapak sedang membalik ayam dengan sendok penggorengan, wajahnya serius dan tegang seperti sedang menjahit kancing di kain sutra. Pinggiran ayam itu kuning keemasan. Tidak gosong. Tidak pucat.
"Berhasil?" bisik Bapak, seolah takut ayamnya mendengar.
Grace mengambil sepotong kecil, meniupnya, dan menggigit. Renyah di luar, empuk di dalam, gurih kunyit dan sedikit manis bawang. Bukan persis seperti buatan Mama. Tapi dekat. Sangat dekat.
"Berhasil, Pak."
Bapak mengepalkan tangan dan meninju udara pelan, seperti pemain bola yang baru mencetak gol di menit terakhir.
Di sekolah, Grace membuka kotak bekalnya di jam istirahat pertama. Nasi putih, ayam goreng kunyit, dan wortel yang diparut tipis, ditumis dengan sedikit bawang. Di sudut kotak, ada kertas terlipat.
Halaman 7. Bapak dan Grace. Lulus.
Tiur mengintip. "Wah, ayam kunyit! Mamamu yang masak?"
Grace memandangi bekalnya. Lalu ia memandang Tiur, dan menjawab dengan suara yang tidak gemetar sedikit pun.
"Bapakku. Dari resep Mamaku. Mamaku sudah meninggal."
Tiur terdiam. Wajahnya memerah. Ia membuka mulut, menutupnya lagi, lalu, dengan gerakan canggung, mendorong kotak semangkanya ke arah Grace.
"Tukar satu?" katanya pelan. "Ayam kunyitmu kelihatan lebih enak dari punyaku."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!