Nama di Bawah Meja
Bola itu menghantam bahuku sebelum aku sempat mengangkat tangan.
"Tangkap, Pahlawan!" teriak Rio dari ujung lapangan. Beberapa anak tim basket tertawa. Rio adalah kapten kami, dan sejak SMP ia selalu duduk di sebelah Dion.
Aku memungut bola, memantulkannya dua kali, lalu mengopernya kembali dengan biasa saja. Tidak keras, tidak pelan. Pelatih Simon sedang menelepon di pinggir lapangan dan tidak melihat apa-apa.
Sudah seminggu sejak aku berdiri di kelas. Seminggu, dan aku belajar bahwa berhenti tertawa ternyata tidak sama dengan selesai.
Malam pertama setelah kejadian itu, grup WhatsApp kelas ramai. Tidak ada yang menyebut namaku. Hanya stiker. Gambar kakatua memakai jubah pahlawan super, dikirim berulang-ulang oleh nomor-nomor yang kukenal. Lalu sebuah pesan suara pendek dari nomor Rio: suara orang berdiri dari kursi, bunyi kursi bergeser, dan suara yang dibuat bergetar, "Dion... berhenti..."
Empat belas orang membalas dengan emoji tertawa.
Aku membaca semuanya di kasur, lampu sudah mati, ponsel dekat sekali dengan wajah. Ini rasanya, pikirku. Ini yang Yohana rasakan tiga bulan. Bedanya, aku baru seminggu, dan aku sudah ingin pura-pura sakit supaya tidak masuk sekolah.
Aku tidak pura-pura sakit. Aku masuk. Setiap hari.
Dion sendiri tidak ikut mengirim apa-apa. Itu yang paling aneh. Ia datang ke kelas, duduk di belakang, memainkan ponselnya, dan tidak bicara padaku sama sekali. Seperti aku adalah papan tulis yang sudah dihapus.
"Kau kalah lagi?" tanya Yohana saat istirahat, melihat memar di lenganku.
"Bukan kalah. Latihan."
"Latihan apa yang bikin biru begitu?"
Aku tidak menjawab. Ia tidak memaksa. Itu kebiasaan yang sama dengan Ibu Martha, dan aku mulai curiga semua orang yang baik hatinya memang punya kebiasaan begitu.
Sekarang kami makan bersama di bawah pohon kesambi hampir setiap hari. Kadang Maria ikut, membawa kue rambut dari mamanya. Kadang Yeremias datang, duduk, makan, lalu tertidur bersandar ke batang pohon sampai bel berbunyi. Tidak ada yang bilang kami berteman. Kami hanya terus datang.
"Kris," kata Yohana, menyendok nasi jagungnya. "Beta mau tanya. Yosef itu siapa?"
Sendokku berhenti di udara.
"Kenapa?"
"Di bawah beta pung meja ada nama. Ditulis pakai cutter. Dalam sekali."
Setelah bel pulang, ketika kelas sudah kosong, Yohana membalik mejanya di barisan depan. Kakinya yang besi berdecit. Ia menunjuk bagian bawah papan meja, di sudut yang tidak akan terlihat siapa pun kecuali yang sengaja berjongkok.
Hurufnya kecil dan miring, digores berkali-kali sampai kayunya tampak putih.
YOSEF L. SAMPAI KAPAN?
Aku berjongkok lama di sana. Bau kayu lapuk dan debu kapur masuk ke hidung.
"Dia duduk di sini," kataku akhirnya. "Semester lalu. Bangku yang sama."
"Dia pindah?"
"Dia gagap," kataku. Kata itu keluar lebih kasar dari yang kumaksud. "Kalau disuruh baca, dia butuh lama untuk satu kata. Dion menghitung. Keras-keras. Satu, dua, tiga, sampai Yosef selesai. Lalu dia bilang rekornya ke seluruh kelas."
Yohana tidak berkata apa-apa.
"Aku ikut tertawa juga," lanjutku. "Aku bahkan lupa. Waktu aku tulis surat untuk Ibu Martha, aku cuma tulis soal kau. Aku lupa soal Yosef. Bagaimana bisa orang lupa hal seperti itu?"
Yohana menurunkan mejanya pelan-pelan, mengembalikannya ke tempat semula. Lalu ia menatapku dengan mata yang sama seperti waktu ia bilang beta pilih ingat yang tadi.
"Karena bukan kau yang ditertawakan," katanya. "Yang ditertawakan, tidak pernah lupa."
Aku pulang naik bemo dengan musik dangdut yang terlalu keras dan lampu disko kecil yang berkedip di langit-langit. Biasanya aku suka. Hari itu aku hanya mendengar satu kalimat terus berulang di kepalaku.
Sampai kapan.
Di rumah, aku membuka laci meja belajar. Suratku yang kedua masih di sana, di bawah piala basket. Hari ini aku berhenti. Semoga kamu tidak pernah mulai lagi.
Tiba-tiba kalimat itu terasa terlalu gampang. Seperti menutup buku sebelum halaman terakhir.
Aku mencari Yosef di media sosial. Butuh setengah jam. Akunnya hampir kosong. Foto terakhirnya diunggah empat bulan lalu: pantai dengan perahu nelayan, tanpa keterangan. Di profilnya tertulis nama sekolah barunya, sebuah SMA di Oesapa, tidak jauh dari pantai.
Jariku melayang di atas tombol pesan selama sepuluh menit. Lalu aku menutup aplikasinya.
Apa yang akan kutulis? Maaf, aku ikut tertawa, tapi sekarang aku sudah berubah, tolong percaya? Bahkan aku sendiri tidak akan percaya pesan seperti itu.
Kamis pagi, Ibu Martha masuk kelas membawa map biru dan wajah yang tidak bisa menyembunyikan senang.
"Pengumuman," katanya. "Sekolah kita mengirim satu wakil ke Lomba Baca Puisi Pelajar tingkat kota, di Taman Budaya, Sabtu dua minggu lagi. Guru-guru Bahasa sudah rapat." Ia berhenti sebentar, membiarkan kami menebak. "Yohana Ndun. Dengan puisi Lontar."
Kelas bertepuk tangan. Tidak semua, tapi cukup banyak. Maria bersiul, lalu malu sendiri. Yohana menunduk, tapi aku bisa melihat telinganya memerah.
Dari belakang, tidak terdengar suara kakatua. Hanya bunyi kursi Dion yang berderit sekali, lalu diam.
Saat istirahat, Ibu Martha memanggil Yohana ke ruang guru untuk mengisi formulir. Yohana menarik lenganku. "Temani. Beta takut salah tulis."
Ruang guru berbau kopi sachet dan kertas fotokopi. Ibu Martha menyodorkan selembar formulir, lalu sebuah daftar peserta yang sudah masuk dari sekolah lain, supaya Yohana tahu siapa saja lawannya.
Yohana mengisi formulirnya pelan-pelan dengan huruf yang rapi. Aku membaca daftar itu sambil lalu. Nama-nama sekolah. Nama-nama siswa. Judul puisi di kolom paling kanan.
Lalu mataku berhenti di baris kesembilan.
SMA di Oesapa. Yosef Lalang.
Aku membaca kolom judulnya dua kali, karena yang pertama aku pikir aku salah lihat.
Judul puisi: Barisan Kedua.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!