Lentera Pertama: Cerita Anak untuk Si Kecil yang Pemalu dan Takut Gelap
Lentera paling kecil di toko lampu tua selalu mengecilkan apinya karena malu. Cerita bergambar tentang percaya diri untuk anak 4–8 tahun.
Lampu kamar baru saja dimatikan. Dari balik selimut terdengar suara kecil, "Bunda, lampunya jangan dimatikan semua, ya..."
Banyak anak takut gelap. Banyak juga yang pemalu: bersembunyi di balik kaki orang tua saat disapa tetangga, diam seribu bahasa saat diminta maju ke depan kelas, padahal di rumah cerewetnya bukan main. Dua hal ini sering datang bersamaan, dan keduanya butuh hal yang sama: rasa percaya bahwa dirinya cukup.
Lentera Pertama ditulis untuk anak-anak seperti itu, dan untuk Ayah dan Bunda yang ingin menemani mereka tumbuh berani dengan caranya sendiri.
Lentera yang paling kecil
Di pojok jendela sebuah toko lampu tua, ada lentera yang paling kecil. Setiap senja, lampu-lampu besar di sekitarnya menyala terang. Klik! Klik! Klik! Lentera kecil merasa malu, lalu mengecilkan apinya sampai tinggal setitik.
Anak pemalu akan langsung merasa "ini aku". Ada perasaan tidak sebesar yang lain, tidak seterang yang lain, lebih baik diam saja supaya tidak kelihatan. Cerita ini memberi nama pada perasaan itu tanpa mengejeknya.
Lalu suatu malam badai datang. Pet! Semua lampu padam. Di tengah laut, perahu-perahu nelayan kehilangan arah. Hanya tersisa satu cahaya, dan lentera kecil berbisik pada dirinya sendiri:
"Cahayaku kecil, tapi tetap cahaya."
Kalimat itu sederhana, tapi bisa jadi pegangan si kecil bertahun-tahun ke depan. Kecil tidak sama dengan tidak berarti.
Suasana malam yang hangat, bukan menakutkan
Meski ada badai dan malam gelap, buku ini dirancang supaya terasa aman dan hangat. Ilustrasinya memainkan kontras antara gelap yang lembut dan cahaya kuning yang berpendar, sehingga gelap justru terasa indah, bukan seram. Cocok sekali untuk anak yang sedang belajar berdamai dengan gelap.
Bunyi-bunyiannya pun seru ditirukan: klik lampu menyala, pet lampu padam, cetik api kecil, dan kedip-kedip cahaya di kejauhan. Coba matikan lampu kamar, nyalakan senter kecil, lalu bacakan bagian pet! bersama-sama. Dijamin si kecil minta diulang.
Kalimatnya pendek dan ritmis, enak dibacakan sebelum tidur atau dibaca sendiri oleh anak yang mulai lancar membaca.
Ngobrol, lalu berkarya
Setelah cerita, ada halaman "Ayo ngobrol!" berisi lima pertanyaan tentang percaya diri dan berani tampil. Pertanyaannya mengajak anak bercerita tentang dirinya sendiri, termasuk hal-hal kecil yang membuatnya bangga.
Ada juga dua halaman aktivitas yang boleh dicetak: cari dan hitung, serta sambung titik. Kalau masih kurang, ambil lembar aktivitas anak gratis dan jadikan kegiatan sore bersama.
Bagaimana nasib perahu-perahu nelayan di tengah badai, dan apa yang dilakukan lentera kecil malam itu? Temukan jawabannya bersama si kecil, dengan lampu kamar yang diredupkan.
Lengkapi dengan paket lima cerita
Lentera Pertama adalah bagian dari Paket Cerita Anak: Berani & Pantang Menyerah, bersama Perahu Kecil Mencari Laut, Layang-Layang Takut Tinggi, Sepeda Roda Tiga, dan Biji Kecil di Celah Batu. Kalau si kecil cocok dengan satu cerita, empat lainnya akan terasa seperti bertemu teman baru, dan harga paketnya lebih hemat daripada membeli satu per satu. Lihat di halaman buku atau rak Cerita Anak.
Malam ini, biarkan lampu kamar sedikit redup, dan nyalakan satu cerita kecil yang hangat.
Pelajari sampai tuntas di “Lentera Pertama”
Di pojok jendela sebuah toko lampu tua, ada lentera paling kecil. Setiap senja, lampu-lampu besar menyala terang. Klik! Klik! Klik! Lentera kecil malu, lalu mengecilkan apinya samp...